Sagusablog

Satu Guru Satu Blog merupakan workshop online melalui telegram yang diselenggarakan tanggal 7 sampai 13 Juli 2019.

Salah satu anggota IGI

Sagusablog diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia/IGI yang selama ini masih belum membuat blog guru/blog pendidikan.

Blog saya (Blog Guru PAI)

Workshop online SAGUSABLOG merupakan kepanjangan dari Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh IGI.

Senin, 11 Oktober 2021

1.4.a.10.2. Jurnal Refleksi - Minggu 8

 Salam Bahagia.......

   Modul 1.4 pada pembelajaran kali ini membahas tentang budaya positif. sebelum memulai modul tersebut ada lokakarya 2 yang diadakan oleh panitia CGP Barito Selatan di Aula Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Selatan. Sayangnya saya tidak bisa mengikuti Lokakarya tersebut sebab saya sedang menjalani Pendidikan Profesi Guru yang diadakan oleh Kemenag, perasaan saya tidak mengikuti Lokakarya tersebut agak sedikit sedih, sebab saya akan ketinggalan pengetahuan dibanding dengan rekan CGP lainnya yang mampu meluangkan waktunya untuk mengikuti Lokakarya tersebut. disamping itu saya juga khawatir dengan tugas nantinya yang diberikan, karena saya tidak mengikuti maka saya juga tidak memahami dengan pembelajaran yang ada saat Lokakarya tersebut.

   Yang saya lakukan untuk mengatasi sedikit kendala tersebut adalah menghubungi Pengajar Praktik (PP) yang membimbing saya yaitu Ibu Yohana Lestari via WhatsApp, meminta keterangan dari beliau apa saja yang dipelajari saat Lokakarya dan meminta materi agar saya mempelajari sendiri, sehingga tidak terlalu jauh ketinggalan pengetahuan dibanding rekan yang lain, meskipun tidak maksimal, palig tidak saya mengetahui materi yang dipelajari teman-teman saat Lokakarya.

   Pembelajaran pada Lokakarya 2 tersebut membahas tentang Komunitas Praktisi, setelah saya telaah materi tersebut, begitu banyak manfaat seandainya saya bisa mengikutinya, tapi apa hendak dikata PPG yang saya ikuti benar-benar full time yang membuat saya sangat sibuk dan sangat sulit membagi waktu, sedangkan di masyarakat khususnya di wilayah desa terpencil, orang yang berpendidikan sangat sedikit, sehingga kehadirannya di masyarakat sangat dibutuhkan oleh lingkungan, seperti kematian, hajatan, resepsi perkawinan maupun ada yang sakit keras, kehadiran kita sangat diharapkan di masyarakat. orang yang memiliki pendidikan di pedesaan yang terpencil bagaikan perak atau perunggu di hamparan pasir yang sangat luas, dia akan terlihat jelas karena perbedaan yang melekat padanya, akan tetapi seandainya perak atau perunggu tersebut di bawa ke kota, maka ia tidak akan dilirik oleh orang, sebab di kota sangat banyak emas bahkan mutiara, jadi tidak ada artinya perak atau perunggu tersebut. berbaur di masyarakat dengan mengerjakan tugas-tugas tuntutan LMS pada PPG sangat sulit membagi waktu, apalagi harus berangkat ke kabupaten / Kota untuk mengikuti Lokakarya, tidak mungkin waktunya bisa dibagi-bagi, maka dari itu saya tidak bisa mengikuti Lokakarya 2 tersebut, mudah-mudahan selesai PPG nanti saya bisa fokus mengikuti pendidikan Guru Penggerak ini, sebab program CGP ini lumayan lama, yaitu selama 9 bulan, sedangkan PPG hanya 3 bulan saja, akan tetapi full time, sebab materi yang seharusnya 6 bulan, dimepetkan menjadi 3 bulan, luar biasa padatnya.

   Syukur alhamdulillaah...., dengan usaha saya selalu berkolaborasi via WA grup dengan rekan CGP lain dalam satu Kabupaten dan selalu melakukan koordinasi dengan pembimbing PP, segala kendala dapat teratasi dengan baik, meskipun saya terlambat mengerjakan tugas pada LMS CGP, akan tetapi masih bisa saya kerjakan dengan sedikit demi sedikit tiap harinya, seperti halnya dalam membuat Jurnal ini, seharusnya sudah hari Sabtu kemaren terupload, sekarang sudah hari Senin malam, karena dikerjakan sedikit demi sedikit akhirnya terlambat juga, semoga saja panitia masih memberikan kelonggaran bagi saya dan masih menerima tugas saya yang terlambat ini. dengan jadwal yang begitu padat, pagi, siang, dan malam hari saya selalu duduk di depan Laptop untuk bolak-balik mengerjakan LMS, terkadang ke LMS CGP sebentar, nanti ke LMS PPG lagi. 

   Saat pendalaman materi di PPG, dengan jadwal jam 06.00 - 13.00 membuat resume 2 modul dan mengupload di LMS, Tes formatif, diskusi, dan sebagainya, sehingga saat saya mengikuti seleksi PPPK, saya mulai mengerjakan resume pendalaman materi dari jam 02.00 pagi, agar bisa selesai pekerjaan tersebut pada jam 10.00 siang, sebab saya berada dipedalaman, harus naik kelotok ke Kabupaten untuk mengikuti seleksi PPPK menempuh waktu 2 jam, malangnya saat menjawab soal PPPK justru saya sangat mengantuk sekali, hal itu membuat saya tidak fokus menjawab soal, akhirnya pengumuman Jum'at 8 Oktober 2021 kemaren saya dinyatakan tidak lolos dalam seleksi tersebut, saya tetap berharap semoga saja di tahap 2 nanti bisa lolos mengikuti seleksi PPPK tersebut.

   Hal yang paling konkrit yang dapat diambil sebagai pembelajaran dalam situasi yang saya alami sekarang ini adalah tentang pentingnya waktu,  yang sudah lewat tidak bisa dikembalikan lagi, jika dia tiba tidak akan bisa ditolak dengan apapun, sungguh susah sekali bagi saya membagi waktu tersebut agar semua bisa berjalan baik dan sesuai dengan harapan, terkadang waktu kita atur sudah tepat, tetapi kondisi jiwa dan raga kita yang tidak mampu tertutupi seperti halnya saya menjawab soal seleksi PPPK kemaren, waktunya bisa di atur akan tetapi mata saya tidak bisa di ajak kompromi.

   Pesan saya kepada para pembaca yaitu bijaklah dalam membagi waktu, jangan sampai diri anda dimakan oleh waktu. demikian Jurnal minggu ke 8 ini saya buat, semoga bisa membawa manfaat bagi orang lain yang membacanya, wabil khusus untuk diri saya sendiri.


Senin, 04 Oktober 2021

1.4.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 7

 Salam Bahagia...

Kembali lagi pada refleksi jurnal mingguan yang rutin kami buat, pada kali ini masih berkisar tentang modul 1.3, yaitu tentang Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah.

Dalam modul 1.3 ini, kami mempelajari IA lebih dalam sebagai salah satu model manajemen perubahan di sekolah dan mencoba menerapkannya melalui tahapan dalam IA yang di dalam bahasa Indonesia disebut dengan BAGJA (Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi)

Inilah langkah-langkah yang perlu diikuti dalam menerapkan perubahan sesuai dengan visi yang telah diimpikan berdasarkan tahapan BAGJA. Tahap pertama, Buat Pertanyaan Utama. Di tahap ini, merumuskan pertanyaan sebagai penentu arah penelusuran terkait perubahan apa yang diinginkan atau diimpikan. Tahap kedua, Ambil Pelajaran. Pada tahapan ini, mengumpulkan berbagai pengalaman positif yang telah dicapai di sekolah dan pelajaran apa yang dapat diambil dari hal-hal positif tersebut. Tahap ketiga, Gali Mimpi. Pada tahapan ini, dapat menyusun narasi tentang kondisi ideal apa yang diimpikan dan diharapkan terjadi di sekolah. Disinilah visi benar-benar dirumuskan dengan jelas. Tahap ketiga, Jabarkan Rencana. Di tahapan ini, dapat merumuskan rencana tindakan tentang hal-hal penting apa yang perlu dilakukan untuk mewujudkan visi. Tahapan terakhir, Atur Eksekusi. Di bagian ini, memutuskan langkah-langkah yang akan diambil, siapa yang akan terlibat, bagaimana strateginya, dan aksi lainnya demi mewujudkan visi perlahan-lahan.

Tahapan tersebut saya buat dalam sebuah vidio yang bisa dilihat di bawah ini :


Untuk memperdalam masalah Inkuiri Apresiatif melalui tahapan BAGJA, kami diperdalam lagi pada Ruang Kolaborasi  selama 2 hari bimbingan, Peristiwa yang terjadi pada ruang kolaborasi sesama rekan CGP dan Fasilitator adalah membuat peta kekuatan secara berkelompok kemudian mempresentasikan hasil kerja kelompok di hari pertama, kemudian di hari yang kedua memberikan masukan terhadap pemetaan kekuatan yang ditampilkan oleh fasilitator kepunyaan teman CGP yang lain dengan pedoman memberikan umpan balik dengan masukan positif-negatif, kemudian positif.

Perasaan yang muncul saat proses pembelajaran yaitu merasa senang ketika bisa bergabung dengan guru-guru yang luar biasa untuk saling berkolaborasi serta berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang aset yang dimiliki, sehingga bisa dijadikan kekuatan, dan perannya apa, serta manfaatnya, kesemuanya itu dinamakan pemetaan kekuatan. sebelumnya saya tidak tau tanpa saya bergabung dalam CGP, seandainya saya tidak dapat bergabung bersama mereka, maka saya akan selamanya tidak akan mengetahui bagaimana cara mengembangkan aset yang disebut dengan pemetaan kekuatan.

Pembelajaran yang diperoleh melalui Peta Kekuatan adalah saya jadi tahu kekuatan yang ada pada diri saya, pada murid, sekolah, dan pihak-pihak terkait guna perubahan dalam pendidikan, terutama di sekolah tempat saya bekerja, selain itu dengan adanya ditampilkan oleh Ibu Any (Fasilitator) pemetaan kekuatan teman-teman yang lain, dapat melihat pemetaan kekuatan punya teman tersebut dijadikan sebagai contoh yang bisa kita adobsi untuk sekolah kita jika kondisi sekolah memungkinkan, umpan balik yang diberikan oleh teman-teman CGP yang lain bisa membuat motivasi bagi saya untuk melakukan yang lebih baik, yang tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Jika saya ingin membuat perubahan dengan konsep inkuiri apresiatif; Yang perlu saya pelajari lebih lanjut adalah mulai dari diri saya sendiri untuk selalu belajar dan memahami kekuatan aset yang dimiliki agar menjadi perubahan ke arah yang lebih baik dalam bidang pendidikan khususnya di sekolah tempat saya bekerja, jika sudah ditemukan maka perlu dikembangkan, jiaka ada masalah maka dilakukan perbaikan dengan penerapan BAGJA, sehingga maslah dapat teratasi. Apa saja strategi yang dilakukan untuk melaksanakan perubahan adalah : 
1. mulai dari diri 
2. selalu berkolaborasi baik dengan sesama CGP, rekan sejawat, kepala sekolah, orang tua siswa, komite, pengawas sekolah bahkan dengan Dinas Pendidikan 
3. melakukan perubahan ke arah yang lebih baik melalui penerapan BAGJA.

Demikian Jurnal Refleksi ini saya abadikan dalam blog saya ini sebagai kenang-kenangan masa mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan.