Jurnal Refleksi - Minggu 3 Pada LMS Modul 1.2.a.10.1.
Calon Guru Penggerak Angkatan 3
Kabupaten Barito Selatan
Pembelajaran dalam rangkaian LMS pada Program Pendidikan Calon Guru Penggerak (PPCGP) yang saya lalui sampai minggu ke-3 ini cukup padat. Hal itu disebabkan selain mengikuti Pendidikan Calon Guru Penggerak, saya juga sedang mengikuti Pendidikan Profisi Guru (PPG) pada LPTK IAIN Palangka Raya, saya kesulitan membagi waktu dalam mengerjakan LMS baik LMS pada CGP maupun mengerjakan LMS pada PPG, meskipun dalam kondisi yang demikian, saya tetap berusaha agar kedua-duanya tetap bisa berjalan agar wawasan, pengetahuan dan pengalaman bisa bertambah yang nantinya akan saya terapkan dalam pembelajaran di sekolah.
Pelatihan pada LMS CGP ini adalah sebuah gambaran merdeka belajar sebagaimana gagasan Ki Hajar Dewantara. Pelatihan ini dilaksanakan secara mandiri sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Selain itu, pelatihan ini juga berjalan secara kolaboratif Bersama Calon Guru Penggerak lainnya. Interaksi dilaksanakan secara virtual melalui aplikasi Google Meet dengan melakukan vicon (video conference). Kegiatan dibimbing oleh fasilitator Ibu Yohan Lestari, beliau menyampaikan instruksi-instruksi pelatihan dengan sabar dalam membimbing para Calon Guru Penggerak. Hal-hal baik yang saya alami dalam pembelajaran ini adalah dapat menambah wawasan dan pengalaman tentang pemikiran KI Hajar Dewantara. Selain itu dapat menjadi seseorang yang siap mengemban tugas dalam mewujudkan merdeka belajar dalam proses pembelaran berpusat pada siswa. Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini, harapan saya dapat membuka wawasan dan strategi nantinya dapat dipergunakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Saya merasa nilai-nilai seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid belum tertanam kuat pada diri. Saya juga merasa belum totalitas dalam menanamkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan, terutama pada lingkup sekolah. Sebagai seorang calon guru penggerak, tentunya saya harus terus mengikuti pelatihan ini, menggali dan memahami nilai-nilai terebut dengan intensif guna perbaikan dalam hal mengajar sehingga sesuai dengan ide Ki Hajar Dewantara. Dengan adanya pelatihan ini, saya merasa terpanggil untuk dapat bertanggung jawab dalam mewujudkan peran tersebut sebagai pendidik. Peran tersebut belum sepenuhnya telah saya laksanakan segaia guru yang baik. Masih jauh dari kata sempurna sebagai seorang guru yang sesuai pemikiran Ki Hajar Dewantara. Namun saya akan terus berusahan memberikan yang terbaik dalam memperkuat peran-peran tersebut.
Selama mengikuti pembelajaran ini saya bersemangat dan bangga menjadi bagian dari program guru penggerak. Tidak semua orang memililki kesempatan menjadi guru penggerak, saya mengikuti seluruh rangkaian kegiatan ini dengan semangat dan penuh perhatian. Meskipun pelatihan ini sangat padat, namun saya terus berusaha mengerjakan seluruh tagihan-tagihan di LMS sesuai jadwal yang diberikan. Semoga semangat ini akan tetap terjaga hingga ujung kegiatan.
Dalam penerapannya saya mencoba pembelajaran yang berpusat pada siswa, yang saya lakukan hanya menuntun siswa, memfasilitasi, memotivasi agar proses pembelajaran berjalan efektif dan efesien, hal ini bisa dilihat pada fhoto di bawah ini :
Demikian jornal refleksi minggu ke 3 ini saya tuliskan pada blog saya ini agar tersimpan sebagai kenang-kenangan saat mengikuti pelatihan daring CGP
Sagusablog
Satu Guru Satu Blog merupakan workshop online melalui telegram yang diselenggarakan tanggal 7 sampai 13 Juli 2019.
Salah satu anggota IGI
Sagusablog diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia/IGI yang selama ini masih belum membuat blog guru/blog pendidikan.
Blog saya (Blog Guru PAI)
Workshop online SAGUSABLOG merupakan kepanjangan dari Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh IGI.
Sabtu, 28 Agustus 2021
Selasa, 24 Agustus 2021
AKSI NYATA - PENERAPAN PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA DI KELAS DAN DI SEKOLAH
Perasaan saya melakukan perubah di kelas agak sedikit ragu-ragu, tindakan yang saya lakukan justru menjadi pertanyaan dalam benak saya, apakah tindakan saya ini sudah benar atau masih salah dalam menerapkan pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD), pembelajaran yang saya gunakan adalah menggunakan media, siswa diminta agar membawa Hand Phone (HP) masing-masing, sebelum pembagian kelompok, saya bagikan link Youtube ke WA grup kelas mereka untuk menonton vidio pembelaran itu, adapun linknya yaitu (klik tulisan link )
dengan materi Iman Kepada Allah dan As Asmau Al Husna dengan RPP pada link (klik tulisan RPP)
Hal ini saya lakukan agar anak merdeka belajar yang mana pembelajarannya berpusat pada murid.
Ide/gagasan yang timbul sepanjang proses perubahan yang saya lakukan adalah membuat proses pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa, seperti halnya saya ajak siswa menonton vidio di youtube melalui HP anak masing-masing, agar anak tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran. Penilaian yang saya lakukan yang utama adalah game, link Kahoot punya saya bisa dilihat pada ling berikut Link Kahoot selain itu saya juga melakukan penilaian :
1. Aspek Sikap spritual menggunakan instromen penilaian diri
2. Aspek Pengetahuan menggunakan tes tertulis
3. Aspek Keterampilan saya menggunakan instromen
Ketiga-tiganya instromen di atas ada dalam lampiran RPP link di atas
Vidio Materi Pembelajaran bisa di tonton di bawah ini jika link di atas tidak bisa di buka
Pembelajaran dan pengalaman dalam bentuk catatan praktik baik sesuai dengan zaman sekarang ini, di mana semua anak tidak lepas dengan androidnya, yang bisa kita gunakan atau dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di era 4.0, evaluasi saya pakai Kahoot dimana siswa menjawab soal dengan HP nya sendiri untuk memilih tombol sesuai jawaban yang ia pilih, sehingga menjadikan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa
Senin, 23 Agustus 2021
Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
>
Yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1 saya pikir siswa itu adalah sebuah kertas putih yang masih kosong, mereka diberi asupan pelajaran dan pengetahuan sesuai dengan kurikulum yang berlaku sekarang ini, pembelajaran berpusat pada guru dengan menggunakan metode cerita, sehingga mereka dituntut agar mampu mencapai Kompetensi Daasar yang sudah ditentukan.
Yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini saya baru tahu bahwa anak sejak lahir sudah memiliki potensi dalam dirinya masing-masing. Guru hanya menuntun tumbuh hidupnya kodrat yang ada pada anak, ia hanya dapat memperbaiki lakunya, bukan dasarnya. sebagaimana filosofis Ki Hajar Dewantara tentang filosofis petani, beliau mengibaratkan guru sebagai petani, sedangkan murid diibaratkan sebagai biji tumbuhan yang disemai atau ditanam oleh petani. Jika Petani menanam padi, ia dapat memperbaiki kondisi tanah, dengan menggemburkannya atau dengan cara memberikan pupuk dan air, membasmi ulat-ulat / jamur Yang mengganggu hidup tanaman padi, meskipun pertumbuhan tanaman padi dapat diperbaiki, tetapi ia tidak dapat mengganti kodratnya padi. Misalnya ia tidak dapat menjadikan padi yang ditanamnya itu tumbuh sebagai jagung, ia juga tidak dapat memelihara tanaman padi tersebut seperti cara memelihara tanaman kopi atau kedelai atau tanaman lainnya. Begitulah peran seorang guru terhadap siswanya. Kemudian perilaku saya setelah mempelajari modul ini saya akan merubah strategi pembelajaran yang semula berpusat pada guru menjadi pembelajaran yang berpusat pada murid, pembelajaran didominasi oleh siswa selama kegiatan pembelajaran, guru hanya sebagai fasilitator, pembimbing dan pemimpin pembelajaran. Hal terpenting yang harus dilakukan seorang guru adalah menghormati dan memperlakukan anak dengan sebaik-baiknya sesuai kodratnya, melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani) bagi tumbuh kembangnya anak.
Yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran KHD adalah menerapkan merdeka belajar dimana pembelajarannya berpusat pada siswa. dasar pendidikan anak berhubungan dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam berkaitan dengan sifat dan bentuk lingkungan di mana anak berada, sedangkan kodrat zaman berkaitan dengan isi dan irama. Artinya bahwa setiap anak sudah membawa sifat atau karakternya masing-masing, jadi sebagai guru kita tidak bisa menghapus sifat dasar itu, yang bisa dilakukan adalah menunjukan dan membimbing mereka agar muncul sifat-sifat baiknya sehingga menutupi/mengaburkan sifat-sifat jeleknya.






















