Sagusablog

Satu Guru Satu Blog merupakan workshop online melalui telegram yang diselenggarakan tanggal 7 sampai 13 Juli 2019.

Salah satu anggota IGI

Sagusablog diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia/IGI yang selama ini masih belum membuat blog guru/blog pendidikan.

Blog saya (Blog Guru PAI)

Workshop online SAGUSABLOG merupakan kepanjangan dari Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh IGI.

Kamis, 31 Maret 2022

3.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 





Nama            :   Ahmad Jiadi, S.Pd.I

CGP              :   Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Unit Kerja     :   SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala


Dalam perencanaan program sekolah yang berdamapak pada murid adalah sebuah rancangan yang dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid, program yang dibuat oleh sekolah berbasis aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, bukan berbasis kekurangan atau kelemahan yang dimiliki oleh sekolah, mengarah pada masa depan, agar murid mencapai kesuksesan, maka seorang guru sudah seharusnya agar mengidentifikasi kompetensi dan sumber daya yang ada, kemudian merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, selanjutnya mengimplementasikan rencana tersebut ke dalam aksi nyata yang sudah di programkan oleh sekolah.

Hubungan materi modul 3.3 ini dengan materi-materi sebelumnya antaranya adalah :

  1. Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Tugas guru adalah menuntun murid untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini guru dan murid dalam menjalankan program-program sekolah yang berdampak pada murid agar sesuai dengan kodrat alam dan zamannya, agar potensi yang dimiliki murid akan berkembang maksimal dengan adanya program yang berdampak pada murid diimplementasikan.
  2. Nilai dan Peran Guru Penggerak. Dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru penggerak, maka dapat melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dengan mengembangkan diri dan orang lain, baik sesama guru maupun terhadap murid. Pembuatan sebuah program yang berdampak pada murid merupakan salah satu perwujudan dari nilai dan peran guru penggerak dengan melibatkan semua warga sekolah.
  3. Visi Guru Penggerak. Pencapaian keinginan, murid, guru, dan sekolah disepakati dalam sebuah visi sekolah, dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif. Dalam pembuatan rancangan program yang berdampak pada murid, kolaborasi antar guru dan kolaborasi guru dengan siswa dari mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh sekolah hingga menjalankan program tersebut. Penyusunan program tersebut mengimplementasikan tahapan BAGJA dengan menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif.
  4. Budaya Positif. Dalam pembuatan sebuah program sekolah akan fokus terhadap hal-hal yang positif yang ada dalam diri murid, sehingga mampu mendorong program yang akan dilaksanakan bisa berjalan dengan nyaman dan kondusif.
  5. Pembelajaran Berdiferensiasi. Dengan keunikan anak dalam keberagaman, pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi terbaik dalam memfasilitasi anak agar terwujudnya merdeka belajar dalam program baik intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun pada ekstrakurikuler yang memiliki dampak pada murid.
  6. Pembelajaran Sosial dan Emosional. Pembelajaran ini sangat diperlukan dalam menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, agar semua warga sekolah mampu mengelola diri dengan baik dan memiliki kesadaran diri, serta memiliki kemampuan berempati sehingga tercapai keselamatan dan kebahagiaan.
  7. Coaching. Untuk menuntun jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh semua warga sekolah, baik dalam merencanakan atau merancang sebuah program maupun menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, sehingga dapat menemukan kekuatan kodrat, agar guru, murid, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensi yang mereka miliki.
  8. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Setiap program yang akan dijalankan oleh sekolah, sudah pasti akan menemukan sebuah masalah dalam memutuskan sesuatu, apalagi jika dihadapkan dalam situasi dilema etika, dengan adanya pembelajaran tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini, jika nantinya guru dihadapkan dalam sebuah masalah, ia akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, yaitu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian keputusan, maka masalah yang muncul dalam menjalankan program yang berdampak pada murid dapat terselesaikan dengan tepat.
  9. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Untuk menentukan sebuah program yang berdampak pada murid, beranjak dari identifikasi aset atau kekuatan yang telah dimiliki oleh sekolah terlebih dahulu, hal ini diperlukan kemampuan seorang guru dalam mengelola 7 sumber aset yang merupakan sumber kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya.
  10. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid. Dalam mewujudkan kepemimpinan murid, yaitu tentang murid bertindak secara aktif, dan membuat keputsan, serta pilihan yang bertanggung jawab sehingga terwujud merdeka belajar yang bermuara pada profil pelajar pancasila. Dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, yaitu saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, sebenarnya mereka memiliki suara murid (voice), pilihan murid (choice), dan kepemilikan murid (ownership) dalam proses pembelajaran mereka, termasuk program yang dibuat oleh sekolah, yang memiliki dampak pada murid, baik pembelajaran intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Secara ringkas, sesuai dengan permintaan di LMS, dituangkan ke dalam PPT Koneksi Antar Materi pada modul ini sebagai berikut :

Minggu, 27 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

 



NAMA CGP        : AHMAD JIADI, S.Pd.I

UNIT KERJA      : SMPN SATU ATAP 1 KARAU KUALA

KECAMATAN    : KARAU KUALA

KABUPATEN      : BARITO SELATAN

PROVINSI           : KALIMANTAN TENGAH

Modul 3.3 tentang Pengelolaan Program Berdampak pada Murid ini merupakan pembelajaran yang sangat bermanfaat sekali bagi saya, begitu banyak hal yang saya dapat dari pembelajaran modul ini, apalagi setelah melakukan kerja kelompok membuat perencanaan sebuah program yang berdampak pada murid di ruang kolaborasi yang dibimbing oleh fasilitatorIbu Any Suhaeny, kelompok kami beranggotakan 1) Tri Ari Mistha dari SMAN 1 Gunung Timang daerah Barito Utara, 2) Mohd. Noorsalim dari SMAN 3 Buntok daerah Barito Selatan, 3) Yunita Pebrianti dari SMAN 2 Gunung Bintang Awai daerah Barito Selatan, 4) Saya sendiri yaitu Ahmad Jiadi dari SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala daerah Barito Selatan.

Banyak hal yang saya dapat dari hasil kerja kelompok tersebut, materi yang semula saya kurang paham menjadi lebih paham setelah berkolaborasi dengan teman satu kelompok tersebut, apalagi setelah presentasi, banyak masukan dan saran dari teman-teman kelompok lain guna perbaikan dalam pembuatan sebuah program positif yang akan berdampak terhadap murid. Adapun rencana program hasil kerja kelompok yang kami buat dan kami presentasikan kemarin dapat di lihat pada bagian di bawah ini.


Sebelum saya memahami betul-betul materi pada modul ini, sepintas dalam benak saya adalah sebuah program yang dibuat oleh guru dan murid kemudian disepakati bersama, baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler, meskipun tidak terus-menerus, hanya berkala saja, seperti kegiatan Pesantren Kilan pada Bulan Ramadhan atau yang sejenisnya, setelah bertemu di dunia maya melalui aplikasi Google Meet berkolaborasi dengan rekan satu kelompok, baru saya memahami betul bahwa program yang tepat itu berkelanjutan dan berkesinambungan, baik dalam sebuah kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Hal baru yang saya dapat setelah menjalani dari proses pembelajaran di modul 3.3 ini adalah adanya keterkaitan yang signifikan dengan modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kemudian modul 3.2 ini juga ada keterkaitan yang sangat erat sekali dengan modul 1.3, pada hakekatnya semua modul dari modul 1.1 s/d modul 3.3 saling keterkaitan satu sama lainnya untuk mewujudkan merdeka belajar dengan acualnya adalah profil pelajar pancasila.

Yang akan saya lakukan ke depannya dari proses pembelajaran ini adalah membuat sebuah program yang memiliki dampak pada murid dengan mengidentifikasi kekuatan aset yang dimiliki sekolah, dari hasil identifikasi tersebut akan diambil sebuah kekuatan aset bersama-sama dengan murid membahasnya, program apa yang tepat diberdayakan, bagaimana pengaplikasiannya nanti, regulasinya, dan lain sebagainya, yang jelas agar program tersebut bisa berjalan sesuai dengan harapan, jika ada kendala nantinya akan dibahas belakangan bersama siswa saat mendapatkan kendala tersebut.

Demikian Jurnal Refleksi Mingguan ini saya buat dan abadikan di blog saya ini sebagai kenang-kenagan saat mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Sabtu, 19 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

 Modul 3.3  Pengelolaan Program Berdampak pada Murid

 


Begitu banyak hal-hal menarik pada pembelajaran modul 3.3 ini yang berjudul Pengelolaan Program Berdampak pada Murid, pada modul-modul sebelumnya di LMS, kami CGP diberikan gambaran-gambaran dan pengetahuan tentang visi guru penggerak, bagaimana filosofi pendidikan menurut KHD, apa saja nilai dan peran guru penggerak, pemahaman tentang budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran social dan emosional, bagaimana praktik coaching, pengambilan keputusan yang tepat, serta pengelolaan sumber daya, yang kesemuanya agar membawa perubahan dengan merujuk kepada kreatifitas dan inovasi sebagai pemimpin pembelajaran, pada modul ini kami CGP sudah di arahkan agar mampu mengidentifikasi aset-aset yang telah dimiliki oleh sekolah untuk dimaksimalkan sebagai pendukung program yang dibuat. Program yang dimaksud adalah sebuah program yang berdampak pada murid, salah satunya adalah program yang mampu memaksimalkan murid sebagai aset manusia yang utama dalam dunia pendidikan, yang mampu memberikan perubahan secara signifikan kepada murid, tidak hanya dirasakan oleh pemangku kebijakan dan guru saja.

Pembelajaran pada modul ini menitik beratkan agar memberikan kesempatan pada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik, guru hanya sebagai fasilitator dan motifator saja dengan memperhatikan suara murid, pilihan murid, dan kepemilikan murid.

Suara Murid (Voice)

mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara.  Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.

Pilihan Murid (Choice)

Penelitian yang dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016)  dan Thibodeaux et al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan murid-murid kita mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus memberikan murid  kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar.  Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016).   Selain itu, memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (Bandura, 1997)

Kepemilikan Murid (Ownership)

Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar.  Jadi dengan kata lain, saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.

Pada tanggal 18 Maret 2022 kami berjumpa dalam ruang kolaborasi sinkronus melalui link Google Meet yang telah tersemat di LMS

Kemudian kami akan mempresentasikannya hasil kerja kelompok pada tanggal 21 Maret 2022.

Demikian kegiatan singkat minggu ini, salam bahagia…

Jumat, 11 Maret 2022

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Kesimpulan dan Koneksi Antara Semua Materi

Sumber daya di sekolah terdapat 2 faktor yang utama yaitu faktor biotik dan faktor abiotik, biotik yang dimaksud adalah guru, murid, Kepala Sekolah, orang tua murid, Pengawas Sekolah, TU, penjaga perpust, penjaga sekolah, masyarakat sekitar, dan lain-lain, sedangkan yang dimaksud abiotik adalah sarana dan prasarana serta keuangan. Dalam sebuah kegiatan memimpin pembelajaran dan mengelola sumber daya dapat dilakukan dari cakupan yang terkecil seperti lingkungan kelas ataupun lingkungan luar kelas.

Melakukan pengelolaan sumber daya di sekolah tindakan yang tepat dengan menggunakan pendekatan berbasis aset atau kekuatan yang ada dimiliki sekolah, dengan kata lain yaitu sebuah pendekatan yang menekankan pada kekuatan berpikir positif atau mengoptimalkan potensi yang ada.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah seorang pemimpin yang mampu menggali, mengenali, dan memetakan potensi sumber daya utama (manusia, sosial, fisik, alam/lingkungan, finansial, politik, serta agama dan budaya), kemudian memberdayakan aset-aset tersebut dengan maksimal agar terjadi perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid lebih berkualitas, sebab pengelolaan sumber daya berbasis aset fokus pada kekuatan/potensi murid.

Koneksi antara materi modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan modul-modul sebelumnya adalah :

  1. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan KHD, murid adalah aset yang kita maksimalkan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
  2. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak, dalam hal ini pemetaan aset untuk menentukan tumbuh kembangnya anak sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka, dengan menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komonitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan mewujudkan kepemimpinan murid dengan berpatokan pada 5 nilai yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid.
  3. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak, yaitu untuk mencapai keinginan murid, guru, dan sekolah. Untuk mewujudkan keinginan tersebut perlu disepakati dalam sebuah visi sekolah dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif dalam tahapan BAGJA memperhatikan 7 aset dan berpedoman pada pendekatan berbasis aset.
  4. Modul 1.4 Budaya Positif, Murid adalah aset utama sekolah, dengan pemetaan berbasis aset maka akan fokus pada hal-hal positif yang ada dalam diri murid, sehingga menumbuhkan budaya positif yang mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif.
  5. Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi, dengan keunikan anak dalam perbedaan hal itu memperkaya aset dalam keberagaman, pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi untuk memfasilitasi dalam keberagaman sehingga terwujud merdeka belajar.
  6. Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional, pembelajaran ini diperlukan agar semua warga sekolah mampu mengelola diri dengan baik, dan memiliki kesadaran diri, serta memiliki kemampuan berempati sehingga tercapai keselamatan dan kebahagiaan.
  7. Modul 2.3 Coaching, untuk menuntun jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh semua warga sekolah sehingga dapat menemukan kekuatan kodrat agar guru, murid dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensinya.
  8. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, seorang guru dalam mengambil sebuah keputusan akan ditemukan dalam sebuah situasi baik dilema etika maupun bujukan moral, dengan adanya pembelajaran modul 3.1 ini maka seorang guru akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat menerapkan 4 paradigma, 3 prinsif, dan 9 langkah pengujian keputusan sehingga dapat melakukan pemetaan aset dengan tepat.
  9. Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kemampuan seorang guru dalam mengelola 7 aset adalah sebuah kekuatan untuk tercapainya tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Kesimpulan yang dimaksud dengan Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan Implementasi

Pemimpin pembelajaran yang dimaksud adalah guru yang mampu mengidentifikasi dan mengelola sumber daya yang ada sebagai kekuatan untuk menjalankan program sekolah agar dapat meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.
Cara mengimplementasikan di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar adalah dengan bersama-sama mengidentifikasi kemudian mengoptimalkan semua aset yang ada sebagai kekuatan yang dimiliki untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.


Hubungannya Pengelolaan Sumber Daya yang Tepat

Cara mengelolanya adalah fokus pada aset/kekuatan yang ada, mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Hubungannya dengan Materi Lain
  1. Hubungannya dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara, Ki Hajar Dewantara yang kita kenal dengan istilah KHD, beliau memandang pendidikan sebagai suatu proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak, hidup dan tumbuh kembangnya anak itu diluar dari kehendak kita sebagai pendidik, setiap anak tumbuh dan hidup menurut kodratnya sendiri, jadi seorang pendidik hanya sebagai pamong dalam pembelajaran, yang bisa menjadi pendorong, penyemangat, dan teladan bagi anak didiknya. Seorang pendidik harus mampu mengelola salah satu aset yaitu modal manusia, baik guru maupun murid.
  2. Hubungannya dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak, sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya berperan sebagai guru seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, sehingga akan terwujud murid yang memiliki profil pelajar pancasila.
  3. Hubungannya dengan Visi Guru Penggerak, sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menyusun visi dan misi yang berpihak pada murid sebagai aset manusia yang ada di sekolah, selain itu juga mampu melakukan perubahan menjadikan sekolah berbasis sumber daya dan mampu menggerakkan seluruh warga sekolah untuk melakukan perubahan yang berdampak pada meningkatnya kualitas pembelajaran.
  4. Hubungannya dengan Pembelajaran Berdiferensiasi, Sosial Emosional, dan Coaching, pembelajaran berdiferensiasi mengelola sumber daya sesuai minat dan bakat dari murid sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dan berdampak pada murid. Pembelajaran sosial emosional adalah dengan melihat potensi dan kekuatan yang ada pada murid dapat dikembangkan dengan memperhatikan sisi sosial dan emosional siswa. Hubungannya dengan coaching yaitu untuk menggali potensi yang dimiliki siswa agar dapat dikembangkan dengan optimal.
  5. Hubungannya dengan Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah mampu mengambil keputusan yang berdampak positif bagi murid dengan memperhatikan paradigma, prinsip, dan langkah-langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan serta bertanggung jawab sebagai pemimpin pembelajaran.


Hubungannya antara Sebelum dan Sesudah Mengikuti Pelatihan Terkait Modul ini

Sebelum saya mempelajari modul ini, pola pikir saya sering melihat dari masalah/kekurangan/hambatan, setelah mempelajari modul ini baru saya tahu bahwa selama ini saya telah keliru, ternyata yang tepat adalah berpikir berbasis aset/kekuatan/potensi yang telah dimiliki, yang perlu dikembangkan, pola pikir saya berubah, saya mulai fokus ke arah potensi atau kekuatan yang ada di lingkungan sekolah.


Senin, 07 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

Pembelajaran Modul 3.2 yaitu Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya ini telah membuka pemikiran saya, selama ini pola pikir saya telah keliru, yaitu berpikir tentang apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negative (kekurangan, masalah, atau hambatan). Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar. Pada pembelajaran di Modul ini dikenal dengan istilah Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pemikiran yang keliru ini selalu kami pakai sebelum saya mengikuti pembelajaran di Calon Guru Penggerak ini.

Pemikiran yang tepat adalah menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pendekatan ini dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri yang dikenal dengan istilah Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking).

Saya sangat bangga dan senang sekali telah diberikan kesempatan kepada saya mengikuti Program Pendidikan Calon Guru Penggerak ini, begitu banyak ilmu yang bermanfaat saya dapatkan dalam mengikuti pendidikan ini, telah mampu merubah pola piker saya dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mengembangkan sekolah, siswa, rekan kerja, dan yang paling utama adalah untuk diri saya pribadi.

Yang dapat saya petik dari modul 3.2 ini adalah untuk mengembangkan sekolah pada umumnya dan diri saya pribadi pada khususnya adlah dengan melakukan pemetaan aset-aset yang dimiliki, kemudian setelah diketahui, lihat apa yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, hal ini merupakan hal yang baru bagi saya, sebab sebelumnya saya berpikir dari masalah, kekurangan, atau hambatan yang menghalangi sebuah keberhasilan, setelah mempelajari modul ini, baru saya tahu bahwa selama ini pemikiran saya telah keliru, seharusnya berpikir berbasis aset yang tepat. Sebagai buah dari pembelajaran pada modul ini, kedepannya saya akan memetakan aset apa saja yang telah ada, yaitu dengan memetakan 7 kelompok aset, yaitu manusia, social, fisik, alam/lingkungan, finansial, politik, serta agama dan budaya. Dari hasil pemetaan tersebut dapat dilihat dengan jelas aset yang telah dimiliki oleh sekolah, tinggal memilih dan memilah aset mana yang bisa dimanfaatkan guna kemajuan dan perkembangan sekolah.

Minggu, 06 Maret 2022