Sagusablog

Satu Guru Satu Blog merupakan workshop online melalui telegram yang diselenggarakan tanggal 7 sampai 13 Juli 2019.

Salah satu anggota IGI

Sagusablog diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia/IGI yang selama ini masih belum membuat blog guru/blog pendidikan.

Blog saya (Blog Guru PAI)

Workshop online SAGUSABLOG merupakan kepanjangan dari Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh IGI.

Tampilkan postingan dengan label Postingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Postingan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2026

Contoh Prompt Untuk Membuat Aplikasi Ulangan

 

Buatkan aplikasi ujian online mirip CBT ANBK dengan tampilan profesional dengan nama sekolah SMP Negeri Satu Atap 1 Karau Kuala  

Setelah siswa mengerjakan soal, otomatis terkirim ke link spreadsheet yang memuat Nama Siswa, Kelas, Mata Pelajaran, dan Sekolah Asal, nilai yang di ambil dari database.

Link Spreadsheet untuk menampilkan nilai :

<script>

const form = document.getElementById("formNilai");

 

form.addEventListener("submit", function(e) {

  e.preventDefault();

 

  const button = form.querySelector("button");

  button.disabled = true; // mencegah klik ganda

 

  const data = {

    nama_siswa: form.nama_siswa.value,

    nisn: form.nisn.value,

    kelas: form.kelas.value,

    mata_pelajaran: form.mata_pelajaran.value,

    sekolah_asal: form.sekolah_asal.value,

    nilai: form.nilai.value

  };

 

  fetch("https://script.google.com/macros/s/AKfycbzgC4MRKNw7wTQKJeuXIYNobRz-nZDMfX_csFMG7EGZCuPxZPqWVwl1D0-lsTUgYJ4A/exec", {

    method: "POST",

    headers: {

      "Content-Type": "application/json"

    },

    body: JSON.stringify(data)

  })

  .then(res => res.json())

  .then(res => {

    alert("Data berhasil disimpan!");

    form.reset();

    button.disabled = false;

  })

  .catch(err => {

    alert("Terjadi kesalahan!");

    button.disabled = false;

  });

});

</script>

 

 

Pront end :

Judul pada halaman depan adalah

Ulangan Harian PAI KELAS VII

SMPN Satap 1 KK

Sertakan logo Sekolah di atasnya, link logo sekolah : <a href="https://imgbb.com/"><img src="https://i.ibb.co.com/VY4Cx2Mw/Logo-Sklh-removebg-preview.png" alt="Logo Sklh removebg preview" border="0"></a>

 

Fitur :

Pada halaman awal ada input Nama Siswa, Kelas ( VII, VIII, dan IX), Mata Pelajaran (PAI), dan Sekolah Asal (SMP Negeri Satu Atap 1 Karau Kuala).

Sediakan panel admin untuk guru dengan password (Jiadiganteng), sediakan fitur sembunyikan atau tampilkan password.

Dalam panel admin tersebut terdiri dari menu-menu berikut : Pengaturan, Data siswa (yang sedang mengerjakan dan yang sudah selesai mengerjakan soal), Preview soal dan Analisis Jawaban, serta Hasil Ujian.

Setiap soal yang terinput akan muncul pada menu preview,

Soal berupa Pilihan ganda (1 jawaban benar), Pilihan ganda kompleks (jawaban lebih dari satu benar), Isian singkat (jawaban berupa angka atau teks singkat), Menjodohkan (drag and drop pasangan yang sesuai atau tarik garis), Tabel benar-salah (siswa memilih benar/salah pada setiap pernyataan).

soal terdiri dari 10 soal yang bervariasi tingkat kesulitannya, serta memuat soal cerita pada sebagian soal  Soal berasal dari materi : Thaharah

Pada menu preview soal, cantumkan jumlah soal yang sudah terinput dan tampilkan semua soal dengan opsi jawaban serta kunci jawabannya dalam aplikasi.

Atur waktu pengerjaan soal secara default dengan timer selama 8 menit.

Pada menu Analisis Jawaban, guru dapat melihat analisis jawaban siswa secara individu maupun keseluruhan, sediakan fitur filter dan short berdasarkan beberapa kategori.

Pastikan semua fitur dan tombol berfungsi.

Tambahkan fitur acak soal untuk mengurangi kemungkinan siswa mencontek, Navigasi soal: Sebelumnya, Berikutnya, Daftar Soal, Tombol Ragu-ragu seperti di CBT ANBK, dan Progress bar jumlah soal yang sudah dijawab.

 

UI/UX :

Semua tombol menu berwarna

Ada efek animasi hover pada saat klik tombol

Terdapat navigasi soal yang berisi tombol berwarna merah yang berjejer dengan setiap nomor soal

Siswa melihat soal yang rapi dengan nomor soal, stimulus soal (teks/gambar), pertanyaan, pilihan jawaban

Tombol opsi jawaban yang sudah dijawab siswa berubah warna menjadi hijau

Siswa tidak bisa submit atau selesai ujian bila ada soal yang belum terjawab

Setelah selesai mengerjakan, siswa bisa melihat skor (nilai maksimum 100 jika benar semua)

Jika waktu habis, siswa tidak bisa menjawab soal lagi, akan muncul menu pop up waktu anda telah berakhir dan akan kembali ke halaman login setelah 5 detik, jawaban yang sudah terjawab akan otomatis menghitung jumlah benar dari soal yang telah dikerjakan siswa dari skor maksimum 100

 

Desain :

a.     Latar belakang berwarna biru tua

b.     Tampilan warna-warni

c.     Animasi secukupnya

 

Perintah yang di copy dan vastekan di Chat GPT :

buatkan script untuk menghubungkan data input web canva ke spreadsheet tentang nilai Ujian Sekolah yang terdiri dari menu Nama Siswa, Kelas, Mata Pelajaran, dan Sekolah Asal, serta Nilai

Senin, 02 Maret 2026

Prompt Untuk Membuat Aplikasi CBT di Canva

 Prompt ini hanya contoh saja, semakin detail isi promptnya semakin bagus hasil nanti, file ini saya letakkan di sini adalah untuk mempermudah saya pribadi mencarinya nanti jika saya ganti laptop, hilang, dsbg..., tinggal buka saja blog saya ini, selain itu saya juga mempermudah bagi teman-teman sesama guru untuk melihat contoh promptnya, kemudian bisa dikembangkan sendiri sesuai keinginan bapak/ibu guru masing-masing.

Tulisan yang berwarna merah bisa diganti sesuai dengan keinginan masing-masing, sedangkan tulisan yang berwarna hijau dan biru tidak bisa dipakai untuk bapak dan ibu sekalian, karena itu menyesuaikan kode Script masing-masing yang dibuat menyesuaikan spreadsheet masing-masing, sedangkan tulisan yang berwarna biru itu (alamat URL) didapat dari hasil depeloy dari menu ekstensi yang ada di spreadsheet masing-masing.

Contoh hasil aplikasi yang saya buat bisa dilihat pada link berikut :


https://ahmadjiadi.blogspot.com/2026/02/ujian-akhir-semester-kelas-viii-smp.html


Contoh Prompt bisa di download ----> Klik di sini <-----

Senin, 05 Januari 2026

Buku Jurnal Guru Wali

Kamis, 14 April 2022

Jurnal Mingguan

 

Calon Guru Penggerak (CGP) Barito Selatan dalam minggu ini telah dijadwalkan untuk Lokakarya 6, tepatnya kemaren pada tanggal 9 April 2022 yang dihadiri oleh 4 orang dari PPPPTK Bandung yang selalu mensuport kegiatan lokakarya yang berjalan di Barito Selatan.
Kami sangat bangga sekali dengan kehadiran beliau dari PPPPTK Bandung yang telah sudi datang ke tempat kami Kabupaten Barito Selatan, dengan demikian kami merasa sangat diperhatikan oleh PPPPTK Bandung selaku perpanjangan tangan dari Kementrian Pendidikan. Saya pribadi merasa senang sebab telah berakhirnya pembelajaran melalui LMS, berikutnya hanya Pendampingan Individu dan 3 kali lokakarya saja yang kami hadapi berikutnya, saya merasa senang sebab begitu banyak ilmu yang didapat dari pendidikan selama ini, yang bisa diterapkan di sekolah kami masing-masing, dari modul 1 sampai modul 3 saya rasa semua materi sangat penting sekali yang bisa diterapkan di sekolah agar mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang bermutu, sehingga mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan mewujudkan profil pelajar pancasila, yaitu peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkenibekaan global, bernalar kritis, dan mandiri.

Pembelajaran yang didapat dalam Pendidikan Guru Penggerak ini sangat berguna sekali bagi kami para pendidik, karena program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan pedagogi guru sehingga dapat mengemplementasikan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik dan mempergerakkan komunitas belajar bagi guru.

Dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui PPGP akan diemplementasikan ke sekolah guna perbaikan proses belajar mengajar yang sebelumnya kurang sesuai dengan sebenarnya, sesuai dengan pengetahuan yang diperoleh tersebut selama mengikuti PPGP.
Demikian yang dapat diuraikan pada kegiatan minggu ini, semoga bisa terealisasikan bagi kami seluruh CGP angkatan 3 khususnya Kabupaten Barito Selatan.

Salam perubahan menuju pendidikan yang berpusat pada murid.

Selasa, 05 April 2022

Senin, 04 April 2022

Jurnal Releksi Mingguan

Nama        : Ahmad Jiadi, S.Pd.I

CGP          : Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Unit Kerja : SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala 


Aktivitas minggu ini yang saya lakukan adalah mengidentifikasi aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah bersama warga sekolah, baik dengan rekan guru, murid, maupun tenaga kependidikan lainnya. Adapun dokumentasi dari kegiatan tersebut terdapat pada gambar di bawah ini :

Setelah aset diidentifikasi, maka kami bersama murid menentukan aset mana yang perlu dikembangkan sesuai dengan visi sekolah dengan tidak meninggalkan 3 hal penting, yaitu suara murid, pilihan murid, dan kepemilikan murid dengan bimbingan guru, hal ini dilakukan sesuai dengan pemahaman pada saat pertemuan di ruang elaborasi bersama instruktur yang saat itu dipandu oleh Ibu Indra Sari, SH, M.Pd, beliau mengarahkan dalam sebuah program yang berdampak pada murid adalah :
  1. Menguatkan yang sudah ada
  2. Mendorong kebermaknaan
  3. Mengimplementasikan kepemimpinan murid
Keputusan yang diambil bersama murid adalah memanfaatkan buku-buku non pelajaran yang ada di ruang perpustakaan agar bisa dibaca oleh siswa yang selama ini tidak terjamah mereka, padahal lebih dari ratusan judul buku tersebut. Program atau kegiatan ini dilakukan agar termotivasinya siswa untuk lebih mengenal literasi dan siswa terdorong untuk membaca, sebab lebih mudah di akses oleh siswa tanpa harus ke ruang perpustakaan utama. Karakteristik lingkungan pendukung tumbuhnya kepemimpinan murid yang akan dikembangkan adalah keterampilan berinteraksi secara positif sesama murid, murid dengan guru, murid dengan pengelola Perpust, dan murid dengan tenagan kependidikan lainnya, serta menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya
Kemudian kami tentukan nama program tersebut bersama siswa dan mengatur jalannya program tersebut. Kesimpulan yang didapat hasil dari kolaborasi guru dan siswa yaitu di setiap teras kelas disediakan buku-buku non pelajaran beserta meja dan kursinya, sehingga waktu istirahat maupun ada jam kosong (tugas yang dititipkan oleh guru yang bersangkutan sudah selesai dikerjakan, akan tetapi waktu masih tersisa sebelum pergantian jam pelajaran), sedangkan kegiatan rutin adalah hari sabtu menjelang siang. adapun jenis buku yang dibaca siswa tersebut antaranya seperti gambar di bawah ini :
Kegiatan tersebut mulai berjalan pada hari sabtu kemaren, tepatnya pada tanggal 2 April 2022, siswa sangat antusias dalam menjalankan program yang telah disepakati bersama tersebut, sebagian dokumentasi dapat di lihat pada gambar di bawah ini :


Demikian kegiatan minggu ini yang saya lakukan bersama warga sekolah untuk mewujudkan perubahan kecil di sekolah kami.
Salam Bahagia........

Kamis, 31 Maret 2022

3.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 





Nama            :   Ahmad Jiadi, S.Pd.I

CGP              :   Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Unit Kerja     :   SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala


Dalam perencanaan program sekolah yang berdamapak pada murid adalah sebuah rancangan yang dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid, program yang dibuat oleh sekolah berbasis aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, bukan berbasis kekurangan atau kelemahan yang dimiliki oleh sekolah, mengarah pada masa depan, agar murid mencapai kesuksesan, maka seorang guru sudah seharusnya agar mengidentifikasi kompetensi dan sumber daya yang ada, kemudian merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, selanjutnya mengimplementasikan rencana tersebut ke dalam aksi nyata yang sudah di programkan oleh sekolah.

Hubungan materi modul 3.3 ini dengan materi-materi sebelumnya antaranya adalah :

  1. Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Tugas guru adalah menuntun murid untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini guru dan murid dalam menjalankan program-program sekolah yang berdampak pada murid agar sesuai dengan kodrat alam dan zamannya, agar potensi yang dimiliki murid akan berkembang maksimal dengan adanya program yang berdampak pada murid diimplementasikan.
  2. Nilai dan Peran Guru Penggerak. Dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru penggerak, maka dapat melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dengan mengembangkan diri dan orang lain, baik sesama guru maupun terhadap murid. Pembuatan sebuah program yang berdampak pada murid merupakan salah satu perwujudan dari nilai dan peran guru penggerak dengan melibatkan semua warga sekolah.
  3. Visi Guru Penggerak. Pencapaian keinginan, murid, guru, dan sekolah disepakati dalam sebuah visi sekolah, dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif. Dalam pembuatan rancangan program yang berdampak pada murid, kolaborasi antar guru dan kolaborasi guru dengan siswa dari mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh sekolah hingga menjalankan program tersebut. Penyusunan program tersebut mengimplementasikan tahapan BAGJA dengan menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif.
  4. Budaya Positif. Dalam pembuatan sebuah program sekolah akan fokus terhadap hal-hal yang positif yang ada dalam diri murid, sehingga mampu mendorong program yang akan dilaksanakan bisa berjalan dengan nyaman dan kondusif.
  5. Pembelajaran Berdiferensiasi. Dengan keunikan anak dalam keberagaman, pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi terbaik dalam memfasilitasi anak agar terwujudnya merdeka belajar dalam program baik intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun pada ekstrakurikuler yang memiliki dampak pada murid.
  6. Pembelajaran Sosial dan Emosional. Pembelajaran ini sangat diperlukan dalam menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, agar semua warga sekolah mampu mengelola diri dengan baik dan memiliki kesadaran diri, serta memiliki kemampuan berempati sehingga tercapai keselamatan dan kebahagiaan.
  7. Coaching. Untuk menuntun jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh semua warga sekolah, baik dalam merencanakan atau merancang sebuah program maupun menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, sehingga dapat menemukan kekuatan kodrat, agar guru, murid, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensi yang mereka miliki.
  8. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Setiap program yang akan dijalankan oleh sekolah, sudah pasti akan menemukan sebuah masalah dalam memutuskan sesuatu, apalagi jika dihadapkan dalam situasi dilema etika, dengan adanya pembelajaran tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini, jika nantinya guru dihadapkan dalam sebuah masalah, ia akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, yaitu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian keputusan, maka masalah yang muncul dalam menjalankan program yang berdampak pada murid dapat terselesaikan dengan tepat.
  9. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Untuk menentukan sebuah program yang berdampak pada murid, beranjak dari identifikasi aset atau kekuatan yang telah dimiliki oleh sekolah terlebih dahulu, hal ini diperlukan kemampuan seorang guru dalam mengelola 7 sumber aset yang merupakan sumber kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya.
  10. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid. Dalam mewujudkan kepemimpinan murid, yaitu tentang murid bertindak secara aktif, dan membuat keputsan, serta pilihan yang bertanggung jawab sehingga terwujud merdeka belajar yang bermuara pada profil pelajar pancasila. Dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, yaitu saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, sebenarnya mereka memiliki suara murid (voice), pilihan murid (choice), dan kepemilikan murid (ownership) dalam proses pembelajaran mereka, termasuk program yang dibuat oleh sekolah, yang memiliki dampak pada murid, baik pembelajaran intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Secara ringkas, sesuai dengan permintaan di LMS, dituangkan ke dalam PPT Koneksi Antar Materi pada modul ini sebagai berikut :

Minggu, 27 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

 



NAMA CGP        : AHMAD JIADI, S.Pd.I

UNIT KERJA      : SMPN SATU ATAP 1 KARAU KUALA

KECAMATAN    : KARAU KUALA

KABUPATEN      : BARITO SELATAN

PROVINSI           : KALIMANTAN TENGAH

Modul 3.3 tentang Pengelolaan Program Berdampak pada Murid ini merupakan pembelajaran yang sangat bermanfaat sekali bagi saya, begitu banyak hal yang saya dapat dari pembelajaran modul ini, apalagi setelah melakukan kerja kelompok membuat perencanaan sebuah program yang berdampak pada murid di ruang kolaborasi yang dibimbing oleh fasilitatorIbu Any Suhaeny, kelompok kami beranggotakan 1) Tri Ari Mistha dari SMAN 1 Gunung Timang daerah Barito Utara, 2) Mohd. Noorsalim dari SMAN 3 Buntok daerah Barito Selatan, 3) Yunita Pebrianti dari SMAN 2 Gunung Bintang Awai daerah Barito Selatan, 4) Saya sendiri yaitu Ahmad Jiadi dari SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala daerah Barito Selatan.

Banyak hal yang saya dapat dari hasil kerja kelompok tersebut, materi yang semula saya kurang paham menjadi lebih paham setelah berkolaborasi dengan teman satu kelompok tersebut, apalagi setelah presentasi, banyak masukan dan saran dari teman-teman kelompok lain guna perbaikan dalam pembuatan sebuah program positif yang akan berdampak terhadap murid. Adapun rencana program hasil kerja kelompok yang kami buat dan kami presentasikan kemarin dapat di lihat pada bagian di bawah ini.


Sebelum saya memahami betul-betul materi pada modul ini, sepintas dalam benak saya adalah sebuah program yang dibuat oleh guru dan murid kemudian disepakati bersama, baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler, meskipun tidak terus-menerus, hanya berkala saja, seperti kegiatan Pesantren Kilan pada Bulan Ramadhan atau yang sejenisnya, setelah bertemu di dunia maya melalui aplikasi Google Meet berkolaborasi dengan rekan satu kelompok, baru saya memahami betul bahwa program yang tepat itu berkelanjutan dan berkesinambungan, baik dalam sebuah kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Hal baru yang saya dapat setelah menjalani dari proses pembelajaran di modul 3.3 ini adalah adanya keterkaitan yang signifikan dengan modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kemudian modul 3.2 ini juga ada keterkaitan yang sangat erat sekali dengan modul 1.3, pada hakekatnya semua modul dari modul 1.1 s/d modul 3.3 saling keterkaitan satu sama lainnya untuk mewujudkan merdeka belajar dengan acualnya adalah profil pelajar pancasila.

Yang akan saya lakukan ke depannya dari proses pembelajaran ini adalah membuat sebuah program yang memiliki dampak pada murid dengan mengidentifikasi kekuatan aset yang dimiliki sekolah, dari hasil identifikasi tersebut akan diambil sebuah kekuatan aset bersama-sama dengan murid membahasnya, program apa yang tepat diberdayakan, bagaimana pengaplikasiannya nanti, regulasinya, dan lain sebagainya, yang jelas agar program tersebut bisa berjalan sesuai dengan harapan, jika ada kendala nantinya akan dibahas belakangan bersama siswa saat mendapatkan kendala tersebut.

Demikian Jurnal Refleksi Mingguan ini saya buat dan abadikan di blog saya ini sebagai kenang-kenagan saat mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Sabtu, 19 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

 Modul 3.3  Pengelolaan Program Berdampak pada Murid

 


Begitu banyak hal-hal menarik pada pembelajaran modul 3.3 ini yang berjudul Pengelolaan Program Berdampak pada Murid, pada modul-modul sebelumnya di LMS, kami CGP diberikan gambaran-gambaran dan pengetahuan tentang visi guru penggerak, bagaimana filosofi pendidikan menurut KHD, apa saja nilai dan peran guru penggerak, pemahaman tentang budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran social dan emosional, bagaimana praktik coaching, pengambilan keputusan yang tepat, serta pengelolaan sumber daya, yang kesemuanya agar membawa perubahan dengan merujuk kepada kreatifitas dan inovasi sebagai pemimpin pembelajaran, pada modul ini kami CGP sudah di arahkan agar mampu mengidentifikasi aset-aset yang telah dimiliki oleh sekolah untuk dimaksimalkan sebagai pendukung program yang dibuat. Program yang dimaksud adalah sebuah program yang berdampak pada murid, salah satunya adalah program yang mampu memaksimalkan murid sebagai aset manusia yang utama dalam dunia pendidikan, yang mampu memberikan perubahan secara signifikan kepada murid, tidak hanya dirasakan oleh pemangku kebijakan dan guru saja.

Pembelajaran pada modul ini menitik beratkan agar memberikan kesempatan pada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik, guru hanya sebagai fasilitator dan motifator saja dengan memperhatikan suara murid, pilihan murid, dan kepemilikan murid.

Suara Murid (Voice)

mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara.  Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.

Pilihan Murid (Choice)

Penelitian yang dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016)  dan Thibodeaux et al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan murid-murid kita mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus memberikan murid  kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar.  Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016).   Selain itu, memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (Bandura, 1997)

Kepemilikan Murid (Ownership)

Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar.  Jadi dengan kata lain, saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.

Pada tanggal 18 Maret 2022 kami berjumpa dalam ruang kolaborasi sinkronus melalui link Google Meet yang telah tersemat di LMS

Kemudian kami akan mempresentasikannya hasil kerja kelompok pada tanggal 21 Maret 2022.

Demikian kegiatan singkat minggu ini, salam bahagia…

Jumat, 11 Maret 2022

3.2.a.9. Koneksi Antar Materi - Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Kesimpulan dan Koneksi Antara Semua Materi

Sumber daya di sekolah terdapat 2 faktor yang utama yaitu faktor biotik dan faktor abiotik, biotik yang dimaksud adalah guru, murid, Kepala Sekolah, orang tua murid, Pengawas Sekolah, TU, penjaga perpust, penjaga sekolah, masyarakat sekitar, dan lain-lain, sedangkan yang dimaksud abiotik adalah sarana dan prasarana serta keuangan. Dalam sebuah kegiatan memimpin pembelajaran dan mengelola sumber daya dapat dilakukan dari cakupan yang terkecil seperti lingkungan kelas ataupun lingkungan luar kelas.

Melakukan pengelolaan sumber daya di sekolah tindakan yang tepat dengan menggunakan pendekatan berbasis aset atau kekuatan yang ada dimiliki sekolah, dengan kata lain yaitu sebuah pendekatan yang menekankan pada kekuatan berpikir positif atau mengoptimalkan potensi yang ada.

Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa yang dimaksud dengan pemimpin pembelajaran dalam pengelolaan sumber daya adalah seorang pemimpin yang mampu menggali, mengenali, dan memetakan potensi sumber daya utama (manusia, sosial, fisik, alam/lingkungan, finansial, politik, serta agama dan budaya), kemudian memberdayakan aset-aset tersebut dengan maksimal agar terjadi perubahan dalam pembelajaran yang berpihak pada murid lebih berkualitas, sebab pengelolaan sumber daya berbasis aset fokus pada kekuatan/potensi murid.

Koneksi antara materi modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya dengan modul-modul sebelumnya adalah :

  1. Modul 1.1 Refleksi Filosofi Pendidikan KHD, murid adalah aset yang kita maksimalkan sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.
  2. Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak, dalam hal ini pemetaan aset untuk menentukan tumbuh kembangnya anak sesuai dengan potensi yang ada dalam diri mereka, dengan menjadi pemimpin pembelajaran, menggerakkan komonitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru, dan mewujudkan kepemimpinan murid dengan berpatokan pada 5 nilai yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak pada murid.
  3. Modul 1.3 Visi Guru Penggerak, yaitu untuk mencapai keinginan murid, guru, dan sekolah. Untuk mewujudkan keinginan tersebut perlu disepakati dalam sebuah visi sekolah dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif dalam tahapan BAGJA memperhatikan 7 aset dan berpedoman pada pendekatan berbasis aset.
  4. Modul 1.4 Budaya Positif, Murid adalah aset utama sekolah, dengan pemetaan berbasis aset maka akan fokus pada hal-hal positif yang ada dalam diri murid, sehingga menumbuhkan budaya positif yang mendorong terbentuknya lingkungan belajar yang nyaman dan kondusif.
  5. Modul 2.1 Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi, dengan keunikan anak dalam perbedaan hal itu memperkaya aset dalam keberagaman, pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi untuk memfasilitasi dalam keberagaman sehingga terwujud merdeka belajar.
  6. Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional, pembelajaran ini diperlukan agar semua warga sekolah mampu mengelola diri dengan baik, dan memiliki kesadaran diri, serta memiliki kemampuan berempati sehingga tercapai keselamatan dan kebahagiaan.
  7. Modul 2.3 Coaching, untuk menuntun jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh semua warga sekolah sehingga dapat menemukan kekuatan kodrat agar guru, murid dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensinya.
  8. Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran, seorang guru dalam mengambil sebuah keputusan akan ditemukan dalam sebuah situasi baik dilema etika maupun bujukan moral, dengan adanya pembelajaran modul 3.1 ini maka seorang guru akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat menerapkan 4 paradigma, 3 prinsif, dan 9 langkah pengujian keputusan sehingga dapat melakukan pemetaan aset dengan tepat.
  9. Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kemampuan seorang guru dalam mengelola 7 aset adalah sebuah kekuatan untuk tercapainya tujuan pendidikan yaitu keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.
Kesimpulan yang dimaksud dengan Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya dan Implementasi

Pemimpin pembelajaran yang dimaksud adalah guru yang mampu mengidentifikasi dan mengelola sumber daya yang ada sebagai kekuatan untuk menjalankan program sekolah agar dapat meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.
Cara mengimplementasikan di kelas, sekolah, dan masyarakat sekitar adalah dengan bersama-sama mengidentifikasi kemudian mengoptimalkan semua aset yang ada sebagai kekuatan yang dimiliki untuk dikelola dan dimanfaatkan dalam meningkatkan kualitas belajar serta menunjang keberhasilan tujuan pendidikan.


Hubungannya Pengelolaan Sumber Daya yang Tepat

Cara mengelolanya adalah fokus pada aset/kekuatan yang ada, mengorganisasikan kompetensi dan sumber daya, merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan kekuatan, serta melaksanakan rencana aksi yang sudah diprogramkan.

Hubungannya dengan Materi Lain
  1. Hubungannya dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara, Ki Hajar Dewantara yang kita kenal dengan istilah KHD, beliau memandang pendidikan sebagai suatu proses menuntun segala kodrat yang ada pada anak, hidup dan tumbuh kembangnya anak itu diluar dari kehendak kita sebagai pendidik, setiap anak tumbuh dan hidup menurut kodratnya sendiri, jadi seorang pendidik hanya sebagai pamong dalam pembelajaran, yang bisa menjadi pendorong, penyemangat, dan teladan bagi anak didiknya. Seorang pendidik harus mampu mengelola salah satu aset yaitu modal manusia, baik guru maupun murid.
  2. Hubungannya dengan Nilai dan Peran Guru Penggerak, sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menerapkan nilai-nilai guru penggerak dalam kesehariannya berperan sebagai guru seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid, sehingga akan terwujud murid yang memiliki profil pelajar pancasila.
  3. Hubungannya dengan Visi Guru Penggerak, sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu menyusun visi dan misi yang berpihak pada murid sebagai aset manusia yang ada di sekolah, selain itu juga mampu melakukan perubahan menjadikan sekolah berbasis sumber daya dan mampu menggerakkan seluruh warga sekolah untuk melakukan perubahan yang berdampak pada meningkatnya kualitas pembelajaran.
  4. Hubungannya dengan Pembelajaran Berdiferensiasi, Sosial Emosional, dan Coaching, pembelajaran berdiferensiasi mengelola sumber daya sesuai minat dan bakat dari murid sehingga menghasilkan pembelajaran yang berkualitas dan berdampak pada murid. Pembelajaran sosial emosional adalah dengan melihat potensi dan kekuatan yang ada pada murid dapat dikembangkan dengan memperhatikan sisi sosial dan emosional siswa. Hubungannya dengan coaching yaitu untuk menggali potensi yang dimiliki siswa agar dapat dikembangkan dengan optimal.
  5. Hubungannya dengan Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran adalah mampu mengambil keputusan yang berdampak positif bagi murid dengan memperhatikan paradigma, prinsip, dan langkah-langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan serta bertanggung jawab sebagai pemimpin pembelajaran.


Hubungannya antara Sebelum dan Sesudah Mengikuti Pelatihan Terkait Modul ini

Sebelum saya mempelajari modul ini, pola pikir saya sering melihat dari masalah/kekurangan/hambatan, setelah mempelajari modul ini baru saya tahu bahwa selama ini saya telah keliru, ternyata yang tepat adalah berpikir berbasis aset/kekuatan/potensi yang telah dimiliki, yang perlu dikembangkan, pola pikir saya berubah, saya mulai fokus ke arah potensi atau kekuatan yang ada di lingkungan sekolah.


Senin, 07 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

Pembelajaran Modul 3.2 yaitu Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya ini telah membuka pemikiran saya, selama ini pola pikir saya telah keliru, yaitu berpikir tentang apa yang kurang, dan apa yang tidak bekerja. Segala sesuatunya akan dilihat dengan cara pandang negative (kekurangan, masalah, atau hambatan). Kita harus bisa mengatasi semua kekurangan atau yang menghalangi tercapainya kesuksesan yang ingin diraih. Semakin lama, secara tidak sadar kita menjadi seseorang yang terbiasa untuk merasa tidak nyaman dan curiga yang ternyata dapat menjadikan kita buta terhadap potensi dan peluang yang ada di sekitar. Pada pembelajaran di Modul ini dikenal dengan istilah Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit-Based Thinking). Pemikiran yang keliru ini selalu kami pakai sebelum saya mengikuti pembelajaran di Calon Guru Penggerak ini.

Pemikiran yang tepat adalah menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang bekerja, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Pendekatan ini merupakan cara praktis menemukan dan mengenali hal-hal yang positif dalam kehidupan. Pendekatan ini dikembangkan oleh Dr. Kathryn Cramer, seorang ahli psikologi yang menekuni kekuatan berpikir positif untuk pengembangan diri yang dikenal dengan istilah Pendekatan berbasis aset (Asset-Based Thinking).

Saya sangat bangga dan senang sekali telah diberikan kesempatan kepada saya mengikuti Program Pendidikan Calon Guru Penggerak ini, begitu banyak ilmu yang bermanfaat saya dapatkan dalam mengikuti pendidikan ini, telah mampu merubah pola piker saya dalam mengambil keputusan yang tepat untuk mengembangkan sekolah, siswa, rekan kerja, dan yang paling utama adalah untuk diri saya pribadi.

Yang dapat saya petik dari modul 3.2 ini adalah untuk mengembangkan sekolah pada umumnya dan diri saya pribadi pada khususnya adlah dengan melakukan pemetaan aset-aset yang dimiliki, kemudian setelah diketahui, lihat apa yang bisa dikembangkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, hal ini merupakan hal yang baru bagi saya, sebab sebelumnya saya berpikir dari masalah, kekurangan, atau hambatan yang menghalangi sebuah keberhasilan, setelah mempelajari modul ini, baru saya tahu bahwa selama ini pemikiran saya telah keliru, seharusnya berpikir berbasis aset yang tepat. Sebagai buah dari pembelajaran pada modul ini, kedepannya saya akan memetakan aset apa saja yang telah ada, yaitu dengan memetakan 7 kelompok aset, yaitu manusia, social, fisik, alam/lingkungan, finansial, politik, serta agama dan budaya. Dari hasil pemetaan tersebut dapat dilihat dengan jelas aset yang telah dimiliki oleh sekolah, tinggal memilih dan memilah aset mana yang bisa dimanfaatkan guna kemajuan dan perkembangan sekolah.

Minggu, 06 Maret 2022

Kamis, 17 Februari 2022

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

 


1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Seorang guru yang mampu mengambil keputusan efektif tentunya tidak terlepas dari pengaruh dan pandangan Ki Hajar Dewantara yakni sistem among dan juga Pratap Triloka. Dalam hal ini guru sebagai seorang pamong dapat menggunakan sistem among dalam pembelajaran untuk menyampaikan karakater bagi peserta didik. Selain itu integrasi Pratap Triloka menjadi sangat penting dalam konteks sekolah terutama dalam pengambilan keputusan bagi guru sebagai pemimpin pembelajaran.

Terdapat 3 unsur penting pada Pratap Triloka yaitu : 1) Ing ngarsa sung tulada 2) Ing madya mangun karsa dan 3) Tut wuri handayani. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin pembelajaran haruslah memberikan suri tauladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin pembelajaran harus mampu membangun Kerjasama dengan orang yang dipimpinnya, sehingga diharapkan mampu menjadi rekan sekaligus orangtua di sekolah dan juga mampu menjadikan peserta didik terampil dalam mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya. Selain itu memberikan kesempatan pada murid untuk maju dan berkembang. Inilah salah satu fungsi seorang guru sebagai coach dan motivator untuk membantu murid dalam melejitkan seluruh potensi yang dimilikinya.

Pengambilan keputusan adalah sebuah proses menentukan sebuah pilihan dari berbagai alternatif pilihan yang tersedia, seorang guru terkadang dihadapkan pada suatu keadaan dimana ia harus menentukan pilihan keputusan dari berbagai alternatif yang ada. Proses yang rumit ini berdampak pada dirinya dan lingkungan sekolah serta munculnya pertentangan nilai yang tertanam dan diyakininya sehingga dapat mempengaruhi pada prinsip-prinsip dalam mengambil suatu keputusan. Memilih dua kebenaran yang saling bertentangan adalah sesuatu yang sangat sulit, namun keputusan haruslah tetap diambil. Memilih paradigma dan prisnsip dalam mengambil keputusan adalah sesuatu yang sangat subjektif karena setiap orang memiliki perspektif yang berbeda dikarenakan perbedaan nilai yang dianutnya.

Pada dasarnya keputusan yang dibuat adalah untuk memecahkan permasalahan serta untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Karena itu, agar keputusan yang diambil efektif, maka seorang guru harus berpegang pada nilai-nilai kebajikan yang tertanam pada diri dan perlu menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan sebagai berikut :

A.        Mengenali nilai-nilai yang bertentangan

B.        Menentukan siapa yang terlibat

C.        Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

D.        Pengujian benar atau salah, melalui :

a.       Bertentangan hukum atau tidak

b.      Uji intuisi

c.       Uji Publikasi

d.      Uji Panutan dan

e.      Uji regulas

E.       Pengujian paradigma benar lawan benar

F.       Prinsip resolusi, yaitu melalui 3 prinsip etika

a.       Berpikir berbasis hasil akhir

b.      Berpikir berbasis peraturan, dan

c.       Berpikir berbasis rasa peduli

G.     Investegasi opsi trilema

H.      Buat keputusan

I.        Lihat lagi keputusan dan refleksikan

2.  Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Seorang guru harus memiliki nilai-nilai positif yang sudah tertanam dalam dirinya. Nilai-nilai positif yang mampu mempengaruhi dirinya untuk menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid.

Nilai-nilai yang akan membimbing dan mendorong pendidik untuk mengambil keputusan yang tepat dan benar. Nilai-nilai positif tersebut seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. 

Nilai-nilai tersebut merupakan prinsip yang dipegang teguh ketika kita berada dalam posisi yang menuntut kita untuk mengambil keputusan dari dua pilihan yang secara logika dan rasa keduanya benar, berada situasi dilemma etika (benar vs benar) atau berada dalam dua pilihan antara benar melawan salah (bujukan moral) yang menuntut kita berpikir secara seksama untuk mengambil keputusan yang benar.

Keputusan tepat yang diambil tersebut merupakan buah dari nilai-nilai positif yang dipegang teguh dan dijalankan oleh kita. Nilai-nilai positif akan mengarahkan kita mengambil keputusan dengan resiko yang sekecil-kecilnya. Keputusan yang mampu memunculkan kepentingan dan keberpihakan pada peserta didik.

Nilai-nilai positif mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berpihak pada murid adalah manifestasi dari pengimplementasian kompetensi social emosional kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran social dan keterampilan berinteraksi social dalam mengambil keputusan secara berkesadaran penuh untuk meminimalisir kesalahan dan konsekuensi yang akan terjadi.

3.  Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Pada konteks pembelajaran yang berpihak pada murid, coaching menjadi salah satu proses “menuntun” kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah terutama dengan diluncurkannya program merdeka belajar oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid untuk memaksimalkan potensinya, termasuk dalam hal pengambilan keputusan. 

Coaching merupakan proses untuk mengaktivasi kerja otak murid. Pertanyaan-pertanyaan reflektif yang diberikan Coach dapat membuat murid melakukan metakognisi untuk mengambil keputusan dengan memilih sendiri alternatif/solusi dari permasalahan yang dihadapinya tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Akronim TIRTA adalah :

T    = Tujuan

I     = Identifikasi

R    = Rencana Aksi

TA = Tanggung Jawab

4.  Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Pendidik yang mampu melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang dengan tepat, mampu membedakan apakah permasalahan yang dihadapi termasuk dilema etika ataukah bujukan moral.

Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Nilai-nilai yang dianutnya akan mempengaruhi dirinya dalam mengambil sebuah keputusan.

Jika nilai-nilai yang dianutnya nilai-nilai positif maka keputusan yang diambil akan tepat, benar dan dapat dipertanggungjawabkan dan begitupun sebaliknya jika nilai-nilai yang dianutnya tidak sesuai dengan kaidah moral, agama dan norma maka keputusan yang diambilnya lebih cenderung hanya benar secara pribadi dan tidak sesuai harapan kebanyakan pihak.

Nilai-nilai tersebut akan mendorong guru untuk menentukan keputusan masalah moral atau etika yang tepat sasaran, benar dan meminimalisir kemungkinan kesalahan pengambilan keputusan yang dapat merugikan semua pihak khususnya peserta didik, yang pada dasarnya adalah melihat dampaknya terhadap peserta didik dalam setiap pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seorang pendidik.

5.  Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus-kasus pada masalah moral atau etika hanya dapat dicapai jika dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 

6.  Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman

Dapat dipastikan bahwa jika pengambilan keputusan dilakukan secara akurat melalui proses analisis kasus yang cermat dan sesuai dengan 9 langkah tersebut, maka keputusan tersebut diyakini akan mampu mengakomodasi semua kepentingan dari pihak-pihak yang terlibat, maka hal tersebut akan berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7. Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan-kesulitan yang dialami di lingkungan saya dalam mengambil keputusan :

1)      Kesulitan/kendala yang bersumber pada diri pribadi pengambil keputusan

2)      Rasa takut/trauma, was-was, dan rasa khawatir dari kegagalan mengambil keputusan di masa lalu

3)      Pemahaman yang tidak tepat tentang informasi yang berkaitan dengan kasus yang ditangani

4)      Sering timbulnya perbedaan pandangan diantara pihak-pihak yang terlibat dalam kasus yang mempersulit tercapainya kesepakatan.

Permasalahan-permasalahan di atas tentu saja kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan.

8.   Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Proses pembelajaran yang dilakukan oleh semua Calon Guru Penggerak adalah yang berpihak pada murid. Karena itu, pengambilan keputusan yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran hendaknya dapat "menuntun" dan memberikan ruang bagi murid dalam proses pengajaran untuk merdeka mengemukakan pendapat dan mengekspresikan ilmu-ilmu baru yang didapatnya. 

 

Dengan demikian murid-murid dapat belajar mengambil keputusan yang sesuai dengan pilihannya sendiri tanpa paksaan dan campur tangan orang lain.

9.  Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan yang memerdekakan dan berpihak pada murid, maka dapat dipastikan murid-muridnya akan belajar menjadi oang-orang yang merdeka, kreatif, inovatif dalam mengambil keputusan yang menentukan bagi masa depan mereka sendiri. 

Sehingga masa depan mereka akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang matang, penuh pertimbangan dan cermat dalam mengambil keputusan-keputusan penting bagi kehidupan dan pekerjaannya.

10.Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Dalam Filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara, Guru adalah "penuntun "segala kekuatan kodrat (kodrat alam & kodrat zaman) pada anak didik agar sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Makna kata "Penuntun", dapat dipahami sebagai "Pemimpin Pembelajaran", yang berpusat pada murid. 

Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru hendaknya mampu menggabungkan strategi pengajaran dan pembelajaran dengan kearifan lokal dan filosofi Pratap Triloka dari Ki Hajar Dewantara (1889-1959) yaitu " Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani." 

Disini ada pergeseran paradigma di mana guru tidak lagi bertindak sebagai sumber utama informasi dalam proses pembelajaran, tetapi lebih berperan sebagai fasilitator dan mitra belajar bagi anak didik, termasuk dalam hal pengambilan keputusan.

Pengambilan Keputusan adalah memilih salah satu alternatif dari alternatif yang ada. Dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, tentunya nilai-nilai diri yang tertanam dalam diri guru akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan. 

Sebagai Calon Guru Penggerak ada nilai-nilai yang harus dipegang teguh seperti nilai mandiri, kreatif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid, Nilai-nilai tersebut akan dapat menuntun seorang guru dalam mengambil keputusan nantinya. 

Kolaborasi/kemitraan antara guru dan murid serta pihak-pihak yang terkait dalam proses tumbuh kembangnya anak didik sangat penting dalam proses pengambilan keputusan. Hal ini akan menjamin kepastian bahwa keputusan yang diambil dapat mengakomodir kepentingan dari semua pihak yang terlibat.

Sebagai seorang guru kita sering dihadapkan pada 2 situasi yaitu situasi dilema etika dan situasi bujukan moral. Perbedaan antara dilema etika dan bujukan moral adalah kalau dilema etika (Benar Vs Benar) yaitu situasi yang terjadi jika seseorang harus memilih diantara 2 pilihan, dimana 2 pilihan tersebut secara moral benar tetapi bertentangan, sedangkan bujukan moral (Benar Vs Salah) adalah situasi yang terjadi jika seseorang harus membuat keputsan antara benar atau salah.

Karena etika itu bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, serta tidak ada aturan baku yang berlaku, maka dalam konteks merdeka belajar, proses coaching akan sangat membantu guru. 

Melalui proses coaching model TIRTA, Guru dapat membimbing murid untuk memaksimalkan potensinya dalam memilih alternatif/opsi keputusan yang tepat bagi dirinya dan masa depannya .

 

Ketika guru dan murid menghadapi situasi dilema etika, maka akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Secara umum ada 4 paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yaitu :

1).    Individu lawan masyarakat (individual vs community)

Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar di mana individu ini juga menjadi bagiannya. 

Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompok kecil melawan kelompok besar. "Individu" di dalam paradigma ini tidak selalu berarti "satu orang". Ini juga dapat berarti kelompok kecil dalam hubungannya dengan kelompok yang lebih besar. Seperti juga "kelompok" dalam paradigma ini dapat berarti kelompok yang lebih besar lagi. 

Itu dapat berarti kelompok masyarakat kota yang sesungguhnya, tapi juga bisa berarti kelompok sekolah, sebuah kelompok keluarga.

Dilema individu melawan masyarakat adalah bagaimana membuat pilihan antara apa yang benar untuk satu orang atau kelompok kecil , dan apa yang benar untuk yang lain, kelompok yang lebih besar. 

Guru kadang harus membuat pilihan seperti ini di dalam kelas. Bila satu kelompok membutuhkan waktu yang lebih banyak pada sebuah tugas, tapi kelompok yang lain sudah siap untuk ke pelajaran berikutnya, apakah pilihan benar yang harus dibuat? Guru mungkin menghadapi dilema individu lawan kelompok.

2).    Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

Dalam paradigma ini ada pilihan antara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakuan yang sama bagi semua orang di satu sisi, dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, di sisi lain. 

Kadang memang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang benar. Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata). 

Pilihan untuk membengkokkan peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa kasihan (kebaikan) Misalnya ada peraturan di rumah Anda harus ada di rumah pada saat makan malam. 

Misalnya suatu hari Anda pulang ke rumah terlambat karena seorang teman membutuhkan bantuan Anda. Ini dapat menunjukkan dilema keadilan lawan rasa kasihan, terhadap orang tua Anda. Apakah ada konsekuensi dari melanggar peraturan tentang pulang ke rumah tepat waktu untuk makan malam, atau haruskah orang tua Anda membuat pengecualian?

3).    Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

Kejujuran dan kesetiaan seringkali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilema etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. 

Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.

Pada jaman perang, tentara yang tertangkap kadang harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya kepada pihak musuh atau tetap setia kepada teman tentara yang lain. 

Hampir dari kita semua pernah mengalami harus memilih antara mengatakan yang sebenarnya atau melindungi teman (saudara) yang dalam masalah. Ini adalah salah satu contoh dari pilihan atas kebenaran melawan kesetiaan.

4).    Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Paradigma ini paling sering terjadi dan mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara yang kelihatannya terbaik untuk saat ini dan yang terbaik untuk masa yang akan datang. 

 

Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari, atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dll. Orang tua kadang harus membuat pilihan ini. 

Contohnya: Mereka harus memilih antara seberapa banyak uang untuk digunakan sekarang dan seberapa banyak untuk ditabung nanti. 

Pernahkah Anda harus memilih antara bersenang-senang atau melatih instrumen musik atau berolahraga? Bila ya, Anda telah membuat pilihan antara jangka pendek melawan jangka panjang.

Dalam proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship skills). 

Diharapkan proses pengambilan keputusan dalat dilakukan secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada.

Untuk dapat mengambil keputusan, diperlukan prinsip dan pendekatan sehingga keputusan tersebut merupakan keputusan yang paling tepat dengan resiko yang paling minim. 

Ada 3 prinsip yang seringkali membantu dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini (Kidder, 2009, hal 144), yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) dan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). 

Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. 

Disamping itu untuk memastikan keputusan yang diambil itu benar dan tepat sasaran, maka perlu dilakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan pada setiap kasus yang kita hadapi sebagai pemimpin pembelajaran, sebagaimana yang telah diuraikan di atas.