Sabtu, 12 Februari 2022

3.1.a.10.1. Jurnal Refleksi - Minggu 17

 



Berdasarkan pengalaman selama ini dalam menghadapi berbagai masalah yang harus segera di ambil keputusan atau tindakan jika dihadapkan dalam situasi yang saling bertentangan akan tetapi kondisinya sama-sama benar maka akan sulit dalam mengambil keputusan atau tindakan, contoh nyata baru-baru ini salah satunya adalah siswa kelas VIII harus mengikuti AKM ke Sekolah lain yang ada jaringan internet dan PC, aturan itu muncul di tengah-tengah semester, jika di awal tahun ajaran tidak akan menjadi masalah, segera dianggarkan dalam RKAS dananya dan diambil dari dana BOS, akan tetapi hal ini muncul aturan dengan tiba-tiba, sehingga kami pihak sekolah menjadi dilema dalam mengambil keputusan, dananya dari mana dan bagaimana agar AKM itu bisa tetap jalan, AKM penting dan harus dilaksanakan sedangkan kegiatan rutin di sekolah juga sangat penting. Contoh kasus lain yaitu orang tua murid menginginkan agar pembelajaran jangan lagi Belajar Dari Rumah (BDR) karena orang tua tidak bisa mendampingi anaknya untuk belajar (saat itu masih awal-awal covid) sedangkan yang menganjurkan agar segera dilakukan BDR ada himbauan dari Dinas Pendidikan, alasan orang tua siswa karena di desa tersebut zona hijau, tidak ada sama sekali masyarakatnya yang terpapar covid 19.

Hal baik yang saya alami dari kondisi tersebut adalah bagaimana mengambil suatu tindakan yang tepat sehingga bisa meminimalisir kesalahan-kesalahan yang fatal, biasanya kami selalu berdiskusi dengan pihak-pihak yang terkait dan mencari bersama jalan keluar yang tepat dan disepakati bersama, jika dikemudian hari terjadi kekeliruan dalam melakukan tindakan, maka tidak ada yang saling menyalahkan, sebab itu sudah menjadi keputusan bersama, dalam sebuah diskusi permasalahn biasanya saya memberikan pandangan dampak yang terjadi jika kita melakukan ini dan itu, memberikan gambaran sisi positif dan sisi negatifnya jika diambil keputusan itu, dan mempersilahkan kepada yang lain memberikan argumennya, kemudian ditampung lalu dipilih yang terbaik yang akan dijadikan sebagai keputusan bersama. dengan pengambilan keputusan melalui kesepekatan bersama selama ini selalu berjalan dengan baik dan keputusan yang diambil berhasil, meswkipun saat adu argumen sering mengalami suasana yang memanas, akan tetapi setelah dijadikan keputusan bersama semua menyepakatinya.

Ketika saya dihadapkan dalam sebuah dilema, biasaya saya agak was-was menjalankannya, sebab kedua kondisi yang bertentangan tersebut dua-duanya benar, rasa khawatir, cemas, tidak enak, dan sebagainya, ketika saya berusaha mengatasi kendala tersebut dengan berpikir bahwa demi kepentingan orang banyak dengan mengorbankan kepentingan sebagian, dalam benak saya yang paling dalam tetap saja ada pikiran tersebut, setelah mengikuti pembelajaran pada modul 3.1 ini baru saya tahu bahwa ada langkah-langkah pengujian dalam mengambil sebuah keputusan, yaitu : 1) Mengenali nilai-nilai yang bertentangan. 2) Menentukan siapa saja yang terlibat. 3) Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan. 4) Pengujian benar atau salah. 5) Pengujian paradigma benar lawan benar. 6) Prinsip resolusi. 7) Investegasi opsi trilema. 8) Buat Keputusan. 9) Lihat kembali keputusan dan refleksikan. Jika saya tahu dari dulu, maka keputusan yang saya ambil tidak akan ragu-ragu lagi, sebab sudah melalui langkah-langkah yang terstruktur, terutama pada pengujian benar atau salah, dalam modul dijelaskan pada saat pengujian benar atau salah akan melihat dari masalah tersebut bertentangan dengan hukum atau tidak, kemudian melalui uji intuisi, uji publikasi, uji panutan, dan uji regulasi, jadi keputusan yang diambil sudah mantab dilaksanakan, tidak ada lagi keragu-raguan.

Proses pembelajaran dalam modul ini kami sebagai Calon Guru Penggerak diberikan berbagai kasus dilema etika, kemudian menganalisis kasus tersebut termasuk dalam kategore paradigma yang mana dalam 4 kategore dilema etika, apakah masuk pada ranah : 1) Individu lawan masyarakat. 2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan. 3) Kebenaran lawan kesetiaan. atau 4) Jangka pendek lawan jangka panjang. Kemudian cara berpikir masuk ke ranah mana dalam 3 prinsip etika, yaitu berpikir berbasis hasil akhir, berpikir berbasis peraturan, dan berpikir berbasis rasa peduli. Dalam pembelajaran pada modul ini sangat berarti sekali bagi saya, sebab sebagai makhluk sosial kita tidak terlepas dari masalah, baik masalah tersebut termasuk dalam jenis bujukan moral (kita dihadapkan dalam situasi yang bertentangan dan kondisinya benar lawan salah) atau termasuk dalam jenis dilema etika (kita dihadapkan dalam situasi yang bertentangan, akan tetapi kondisinya sama-sama benar).

Setelah mempelajari modul 3.1 ini saya sadar betul bahwa saya sangat jauh ketinggalan pengetahuan dari orang lain, ini hanya dalam hal mengambil sebuah keputusan saja, apalagi dalam hal lainnya, saya sangat jauh sekali ketinggalan baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan dalam menjalani kehidupan di dunia ini, dengan kesimpulan yang saya miliki tersebut, maka saya akan melanjutkan ke S2 jika ada rejeki yang lebih di tahun mendatang, sehingga bisa mengejar ketertinggaln meskipun hanya sedikit saja.

Demikian Jurnal Refleksi minggu ini saya buat

Lokasi: Muara Arai, Karau Kuala, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, Indonesia

0 komentar:

Posting Komentar