Sagusablog

Satu Guru Satu Blog merupakan workshop online melalui telegram yang diselenggarakan tanggal 7 sampai 13 Juli 2019.

Salah satu anggota IGI

Sagusablog diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia/IGI yang selama ini masih belum membuat blog guru/blog pendidikan.

Blog saya (Blog Guru PAI)

Workshop online SAGUSABLOG merupakan kepanjangan dari Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh IGI.

Kamis, 14 April 2022

Jurnal Mingguan

 

Calon Guru Penggerak (CGP) Barito Selatan dalam minggu ini telah dijadwalkan untuk Lokakarya 6, tepatnya kemaren pada tanggal 9 April 2022 yang dihadiri oleh 4 orang dari PPPPTK Bandung yang selalu mensuport kegiatan lokakarya yang berjalan di Barito Selatan.
Kami sangat bangga sekali dengan kehadiran beliau dari PPPPTK Bandung yang telah sudi datang ke tempat kami Kabupaten Barito Selatan, dengan demikian kami merasa sangat diperhatikan oleh PPPPTK Bandung selaku perpanjangan tangan dari Kementrian Pendidikan. Saya pribadi merasa senang sebab telah berakhirnya pembelajaran melalui LMS, berikutnya hanya Pendampingan Individu dan 3 kali lokakarya saja yang kami hadapi berikutnya, saya merasa senang sebab begitu banyak ilmu yang didapat dari pendidikan selama ini, yang bisa diterapkan di sekolah kami masing-masing, dari modul 1 sampai modul 3 saya rasa semua materi sangat penting sekali yang bisa diterapkan di sekolah agar mampu menjadi pemimpin pembelajaran yang bermutu, sehingga mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik secara holistik, aktif dan proaktif dalam mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat pada murid serta menjadi teladan dan agen transformasi ekosistem pendidikan mewujudkan profil pelajar pancasila, yaitu peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, kreatif, gotong royong, berkenibekaan global, bernalar kritis, dan mandiri.

Pembelajaran yang didapat dalam Pendidikan Guru Penggerak ini sangat berguna sekali bagi kami para pendidik, karena program ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kepemimpinan pedagogi guru sehingga dapat mengemplementasikan pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik dan mempergerakkan komunitas belajar bagi guru.

Dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui PPGP akan diemplementasikan ke sekolah guna perbaikan proses belajar mengajar yang sebelumnya kurang sesuai dengan sebenarnya, sesuai dengan pengetahuan yang diperoleh tersebut selama mengikuti PPGP.
Demikian yang dapat diuraikan pada kegiatan minggu ini, semoga bisa terealisasikan bagi kami seluruh CGP angkatan 3 khususnya Kabupaten Barito Selatan.

Salam perubahan menuju pendidikan yang berpusat pada murid.

Selasa, 05 April 2022

Senin, 04 April 2022

Jurnal Releksi Mingguan

Nama        : Ahmad Jiadi, S.Pd.I

CGP          : Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Unit Kerja : SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala 


Aktivitas minggu ini yang saya lakukan adalah mengidentifikasi aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah bersama warga sekolah, baik dengan rekan guru, murid, maupun tenaga kependidikan lainnya. Adapun dokumentasi dari kegiatan tersebut terdapat pada gambar di bawah ini :

Setelah aset diidentifikasi, maka kami bersama murid menentukan aset mana yang perlu dikembangkan sesuai dengan visi sekolah dengan tidak meninggalkan 3 hal penting, yaitu suara murid, pilihan murid, dan kepemilikan murid dengan bimbingan guru, hal ini dilakukan sesuai dengan pemahaman pada saat pertemuan di ruang elaborasi bersama instruktur yang saat itu dipandu oleh Ibu Indra Sari, SH, M.Pd, beliau mengarahkan dalam sebuah program yang berdampak pada murid adalah :
  1. Menguatkan yang sudah ada
  2. Mendorong kebermaknaan
  3. Mengimplementasikan kepemimpinan murid
Keputusan yang diambil bersama murid adalah memanfaatkan buku-buku non pelajaran yang ada di ruang perpustakaan agar bisa dibaca oleh siswa yang selama ini tidak terjamah mereka, padahal lebih dari ratusan judul buku tersebut. Program atau kegiatan ini dilakukan agar termotivasinya siswa untuk lebih mengenal literasi dan siswa terdorong untuk membaca, sebab lebih mudah di akses oleh siswa tanpa harus ke ruang perpustakaan utama. Karakteristik lingkungan pendukung tumbuhnya kepemimpinan murid yang akan dikembangkan adalah keterampilan berinteraksi secara positif sesama murid, murid dengan guru, murid dengan pengelola Perpust, dan murid dengan tenagan kependidikan lainnya, serta menyediakan kesempatan untuk murid menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif, hingga berkemampuan dan berkeinginan untuk memberikan pengaruh positif kepada kehidupan orang lain dan sekelilingnya
Kemudian kami tentukan nama program tersebut bersama siswa dan mengatur jalannya program tersebut. Kesimpulan yang didapat hasil dari kolaborasi guru dan siswa yaitu di setiap teras kelas disediakan buku-buku non pelajaran beserta meja dan kursinya, sehingga waktu istirahat maupun ada jam kosong (tugas yang dititipkan oleh guru yang bersangkutan sudah selesai dikerjakan, akan tetapi waktu masih tersisa sebelum pergantian jam pelajaran), sedangkan kegiatan rutin adalah hari sabtu menjelang siang. adapun jenis buku yang dibaca siswa tersebut antaranya seperti gambar di bawah ini :
Kegiatan tersebut mulai berjalan pada hari sabtu kemaren, tepatnya pada tanggal 2 April 2022, siswa sangat antusias dalam menjalankan program yang telah disepakati bersama tersebut, sebagian dokumentasi dapat di lihat pada gambar di bawah ini :


Demikian kegiatan minggu ini yang saya lakukan bersama warga sekolah untuk mewujudkan perubahan kecil di sekolah kami.
Salam Bahagia........

Kamis, 31 Maret 2022

3.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 





Nama            :   Ahmad Jiadi, S.Pd.I

CGP              :   Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Unit Kerja     :   SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala


Dalam perencanaan program sekolah yang berdamapak pada murid adalah sebuah rancangan yang dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid, program yang dibuat oleh sekolah berbasis aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, bukan berbasis kekurangan atau kelemahan yang dimiliki oleh sekolah, mengarah pada masa depan, agar murid mencapai kesuksesan, maka seorang guru sudah seharusnya agar mengidentifikasi kompetensi dan sumber daya yang ada, kemudian merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, selanjutnya mengimplementasikan rencana tersebut ke dalam aksi nyata yang sudah di programkan oleh sekolah.

Hubungan materi modul 3.3 ini dengan materi-materi sebelumnya antaranya adalah :

  1. Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Tugas guru adalah menuntun murid untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini guru dan murid dalam menjalankan program-program sekolah yang berdampak pada murid agar sesuai dengan kodrat alam dan zamannya, agar potensi yang dimiliki murid akan berkembang maksimal dengan adanya program yang berdampak pada murid diimplementasikan.
  2. Nilai dan Peran Guru Penggerak. Dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru penggerak, maka dapat melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dengan mengembangkan diri dan orang lain, baik sesama guru maupun terhadap murid. Pembuatan sebuah program yang berdampak pada murid merupakan salah satu perwujudan dari nilai dan peran guru penggerak dengan melibatkan semua warga sekolah.
  3. Visi Guru Penggerak. Pencapaian keinginan, murid, guru, dan sekolah disepakati dalam sebuah visi sekolah, dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif. Dalam pembuatan rancangan program yang berdampak pada murid, kolaborasi antar guru dan kolaborasi guru dengan siswa dari mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh sekolah hingga menjalankan program tersebut. Penyusunan program tersebut mengimplementasikan tahapan BAGJA dengan menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif.
  4. Budaya Positif. Dalam pembuatan sebuah program sekolah akan fokus terhadap hal-hal yang positif yang ada dalam diri murid, sehingga mampu mendorong program yang akan dilaksanakan bisa berjalan dengan nyaman dan kondusif.
  5. Pembelajaran Berdiferensiasi. Dengan keunikan anak dalam keberagaman, pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi terbaik dalam memfasilitasi anak agar terwujudnya merdeka belajar dalam program baik intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun pada ekstrakurikuler yang memiliki dampak pada murid.
  6. Pembelajaran Sosial dan Emosional. Pembelajaran ini sangat diperlukan dalam menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, agar semua warga sekolah mampu mengelola diri dengan baik dan memiliki kesadaran diri, serta memiliki kemampuan berempati sehingga tercapai keselamatan dan kebahagiaan.
  7. Coaching. Untuk menuntun jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh semua warga sekolah, baik dalam merencanakan atau merancang sebuah program maupun menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, sehingga dapat menemukan kekuatan kodrat, agar guru, murid, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensi yang mereka miliki.
  8. Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Setiap program yang akan dijalankan oleh sekolah, sudah pasti akan menemukan sebuah masalah dalam memutuskan sesuatu, apalagi jika dihadapkan dalam situasi dilema etika, dengan adanya pembelajaran tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini, jika nantinya guru dihadapkan dalam sebuah masalah, ia akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, yaitu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian keputusan, maka masalah yang muncul dalam menjalankan program yang berdampak pada murid dapat terselesaikan dengan tepat.
  9. Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Untuk menentukan sebuah program yang berdampak pada murid, beranjak dari identifikasi aset atau kekuatan yang telah dimiliki oleh sekolah terlebih dahulu, hal ini diperlukan kemampuan seorang guru dalam mengelola 7 sumber aset yang merupakan sumber kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya.
  10. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid. Dalam mewujudkan kepemimpinan murid, yaitu tentang murid bertindak secara aktif, dan membuat keputsan, serta pilihan yang bertanggung jawab sehingga terwujud merdeka belajar yang bermuara pada profil pelajar pancasila. Dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, yaitu saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, sebenarnya mereka memiliki suara murid (voice), pilihan murid (choice), dan kepemilikan murid (ownership) dalam proses pembelajaran mereka, termasuk program yang dibuat oleh sekolah, yang memiliki dampak pada murid, baik pembelajaran intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Secara ringkas, sesuai dengan permintaan di LMS, dituangkan ke dalam PPT Koneksi Antar Materi pada modul ini sebagai berikut :

Minggu, 27 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

 



NAMA CGP        : AHMAD JIADI, S.Pd.I

UNIT KERJA      : SMPN SATU ATAP 1 KARAU KUALA

KECAMATAN    : KARAU KUALA

KABUPATEN      : BARITO SELATAN

PROVINSI           : KALIMANTAN TENGAH

Modul 3.3 tentang Pengelolaan Program Berdampak pada Murid ini merupakan pembelajaran yang sangat bermanfaat sekali bagi saya, begitu banyak hal yang saya dapat dari pembelajaran modul ini, apalagi setelah melakukan kerja kelompok membuat perencanaan sebuah program yang berdampak pada murid di ruang kolaborasi yang dibimbing oleh fasilitatorIbu Any Suhaeny, kelompok kami beranggotakan 1) Tri Ari Mistha dari SMAN 1 Gunung Timang daerah Barito Utara, 2) Mohd. Noorsalim dari SMAN 3 Buntok daerah Barito Selatan, 3) Yunita Pebrianti dari SMAN 2 Gunung Bintang Awai daerah Barito Selatan, 4) Saya sendiri yaitu Ahmad Jiadi dari SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala daerah Barito Selatan.

Banyak hal yang saya dapat dari hasil kerja kelompok tersebut, materi yang semula saya kurang paham menjadi lebih paham setelah berkolaborasi dengan teman satu kelompok tersebut, apalagi setelah presentasi, banyak masukan dan saran dari teman-teman kelompok lain guna perbaikan dalam pembuatan sebuah program positif yang akan berdampak terhadap murid. Adapun rencana program hasil kerja kelompok yang kami buat dan kami presentasikan kemarin dapat di lihat pada bagian di bawah ini.


Sebelum saya memahami betul-betul materi pada modul ini, sepintas dalam benak saya adalah sebuah program yang dibuat oleh guru dan murid kemudian disepakati bersama, baik intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler, meskipun tidak terus-menerus, hanya berkala saja, seperti kegiatan Pesantren Kilan pada Bulan Ramadhan atau yang sejenisnya, setelah bertemu di dunia maya melalui aplikasi Google Meet berkolaborasi dengan rekan satu kelompok, baru saya memahami betul bahwa program yang tepat itu berkelanjutan dan berkesinambungan, baik dalam sebuah kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Hal baru yang saya dapat setelah menjalani dari proses pembelajaran di modul 3.3 ini adalah adanya keterkaitan yang signifikan dengan modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya, kemudian modul 3.2 ini juga ada keterkaitan yang sangat erat sekali dengan modul 1.3, pada hakekatnya semua modul dari modul 1.1 s/d modul 3.3 saling keterkaitan satu sama lainnya untuk mewujudkan merdeka belajar dengan acualnya adalah profil pelajar pancasila.

Yang akan saya lakukan ke depannya dari proses pembelajaran ini adalah membuat sebuah program yang memiliki dampak pada murid dengan mengidentifikasi kekuatan aset yang dimiliki sekolah, dari hasil identifikasi tersebut akan diambil sebuah kekuatan aset bersama-sama dengan murid membahasnya, program apa yang tepat diberdayakan, bagaimana pengaplikasiannya nanti, regulasinya, dan lain sebagainya, yang jelas agar program tersebut bisa berjalan sesuai dengan harapan, jika ada kendala nantinya akan dibahas belakangan bersama siswa saat mendapatkan kendala tersebut.

Demikian Jurnal Refleksi Mingguan ini saya buat dan abadikan di blog saya ini sebagai kenang-kenagan saat mengikuti Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan

Sabtu, 19 Maret 2022

Jurnal Refleksi Mingguan

 Modul 3.3  Pengelolaan Program Berdampak pada Murid

 


Begitu banyak hal-hal menarik pada pembelajaran modul 3.3 ini yang berjudul Pengelolaan Program Berdampak pada Murid, pada modul-modul sebelumnya di LMS, kami CGP diberikan gambaran-gambaran dan pengetahuan tentang visi guru penggerak, bagaimana filosofi pendidikan menurut KHD, apa saja nilai dan peran guru penggerak, pemahaman tentang budaya positif, pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran social dan emosional, bagaimana praktik coaching, pengambilan keputusan yang tepat, serta pengelolaan sumber daya, yang kesemuanya agar membawa perubahan dengan merujuk kepada kreatifitas dan inovasi sebagai pemimpin pembelajaran, pada modul ini kami CGP sudah di arahkan agar mampu mengidentifikasi aset-aset yang telah dimiliki oleh sekolah untuk dimaksimalkan sebagai pendukung program yang dibuat. Program yang dimaksud adalah sebuah program yang berdampak pada murid, salah satunya adalah program yang mampu memaksimalkan murid sebagai aset manusia yang utama dalam dunia pendidikan, yang mampu memberikan perubahan secara signifikan kepada murid, tidak hanya dirasakan oleh pemangku kebijakan dan guru saja.

Pembelajaran pada modul ini menitik beratkan agar memberikan kesempatan pada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik, guru hanya sebagai fasilitator dan motifator saja dengan memperhatikan suara murid, pilihan murid, dan kepemilikan murid.

Suara Murid (Voice)

mempertimbangkan suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran mereka dinilai. Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dalam banyak cara.  Suara murid dapat ditumbuhkan melalui diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.

Pilihan Murid (Choice)

Penelitian yang dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016)  dan Thibodeaux et al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan murid-murid kita mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus memberikan murid  kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan belajar.  Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid, mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016).   Selain itu, memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (Bandura, 1997)

Kepemilikan Murid (Ownership)

Voltz DL, Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22) menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning) sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat pribadi seseorang dalam proses belajar.  Jadi dengan kata lain, saat murid terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka terhadap proses belajar tinggi.

Pada tanggal 18 Maret 2022 kami berjumpa dalam ruang kolaborasi sinkronus melalui link Google Meet yang telah tersemat di LMS

Kemudian kami akan mempresentasikannya hasil kerja kelompok pada tanggal 21 Maret 2022.

Demikian kegiatan singkat minggu ini, salam bahagia…