Sagusablog
Satu Guru Satu Blog merupakan workshop online melalui telegram yang diselenggarakan tanggal 7 sampai 13 Juli 2019.
Salah satu anggota IGI
Sagusablog diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia/IGI yang selama ini masih belum membuat blog guru/blog pendidikan.
Blog saya (Blog Guru PAI)
Workshop online SAGUSABLOG merupakan kepanjangan dari Satu Guru Satu Blog yang diselenggarakan oleh IGI.
Kamis, 14 April 2022
Jurnal Mingguan
Selasa, 05 April 2022
Senin, 04 April 2022
Jurnal Releksi Mingguan
Nama : Ahmad Jiadi, S.Pd.I
CGP : Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan
Unit Kerja : SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala
Aktivitas minggu ini yang saya lakukan adalah mengidentifikasi aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah bersama warga sekolah, baik dengan rekan guru, murid, maupun tenaga kependidikan lainnya. Adapun dokumentasi dari kegiatan tersebut terdapat pada gambar di bawah ini :
- Menguatkan yang sudah ada
- Mendorong kebermaknaan
- Mengimplementasikan kepemimpinan murid
Kamis, 31 Maret 2022
3.3.a.9. Koneksi Antarmateri - Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
CGP : Angkatan 3 Kabupaten Barito Selatan
Unit Kerja : SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala
Dalam perencanaan program sekolah yang berdamapak pada murid adalah sebuah rancangan yang dibuat berdasarkan hasil analisis kebutuhan murid, program yang dibuat oleh sekolah berbasis aset atau kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, bukan berbasis kekurangan atau kelemahan yang dimiliki oleh sekolah, mengarah pada masa depan, agar murid mencapai kesuksesan, maka seorang guru sudah seharusnya agar mengidentifikasi kompetensi dan sumber daya yang ada, kemudian merancang sebuah rencana berdasarkan visi dan aset/kekuatan yang dimiliki oleh sekolah, selanjutnya mengimplementasikan rencana tersebut ke dalam aksi nyata yang sudah di programkan oleh sekolah.
Hubungan materi modul 3.3 ini dengan materi-materi sebelumnya antaranya adalah :
- Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD). Tugas guru adalah menuntun murid untuk mencapai tujuan pendidikan. Dalam hal ini guru dan murid dalam menjalankan program-program sekolah yang berdampak pada murid agar sesuai dengan kodrat alam dan zamannya, agar potensi yang dimiliki murid akan berkembang maksimal dengan adanya program yang berdampak pada murid diimplementasikan.
- Nilai dan Peran Guru Penggerak. Dengan kompetensi yang dimiliki oleh guru penggerak, maka dapat melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dengan mengembangkan diri dan orang lain, baik sesama guru maupun terhadap murid. Pembuatan sebuah program yang berdampak pada murid merupakan salah satu perwujudan dari nilai dan peran guru penggerak dengan melibatkan semua warga sekolah.
- Visi Guru Penggerak. Pencapaian keinginan, murid, guru, dan sekolah disepakati dalam sebuah visi sekolah, dengan melakukan pendekatan inkuiri apresiatif. Dalam pembuatan rancangan program yang berdampak pada murid, kolaborasi antar guru dan kolaborasi guru dengan siswa dari mengidentifikasi aset yang dimiliki oleh sekolah hingga menjalankan program tersebut. Penyusunan program tersebut mengimplementasikan tahapan BAGJA dengan menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif.
- Budaya Positif. Dalam pembuatan sebuah program sekolah akan fokus terhadap hal-hal yang positif yang ada dalam diri murid, sehingga mampu mendorong program yang akan dilaksanakan bisa berjalan dengan nyaman dan kondusif.
- Pembelajaran Berdiferensiasi. Dengan keunikan anak dalam keberagaman, pembelajaran berdiferensiasi merupakan solusi terbaik dalam memfasilitasi anak agar terwujudnya merdeka belajar dalam program baik intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun pada ekstrakurikuler yang memiliki dampak pada murid.
- Pembelajaran Sosial dan Emosional. Pembelajaran ini sangat diperlukan dalam menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, agar semua warga sekolah mampu mengelola diri dengan baik dan memiliki kesadaran diri, serta memiliki kemampuan berempati sehingga tercapai keselamatan dan kebahagiaan.
- Coaching. Untuk menuntun jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi oleh semua warga sekolah, baik dalam merencanakan atau merancang sebuah program maupun menjalankan sebuah program yang berdampak pada murid, sehingga dapat menemukan kekuatan kodrat, agar guru, murid, dan semua warga sekolah dapat meningkatkan potensi yang mereka miliki.
- Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Setiap program yang akan dijalankan oleh sekolah, sudah pasti akan menemukan sebuah masalah dalam memutuskan sesuatu, apalagi jika dihadapkan dalam situasi dilema etika, dengan adanya pembelajaran tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran ini, jika nantinya guru dihadapkan dalam sebuah masalah, ia akan mampu menyelesaikan masalah dengan tepat, yaitu dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengujian keputusan, maka masalah yang muncul dalam menjalankan program yang berdampak pada murid dapat terselesaikan dengan tepat.
- Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Untuk menentukan sebuah program yang berdampak pada murid, beranjak dari identifikasi aset atau kekuatan yang telah dimiliki oleh sekolah terlebih dahulu, hal ini diperlukan kemampuan seorang guru dalam mengelola 7 sumber aset yang merupakan sumber kekuatan yang dimiliki oleh sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan, yaitu keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tinginya.
- Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid. Dalam mewujudkan kepemimpinan murid, yaitu tentang murid bertindak secara aktif, dan membuat keputsan, serta pilihan yang bertanggung jawab sehingga terwujud merdeka belajar yang bermuara pada profil pelajar pancasila. Dalam menumbuhkembangkan kepemimpinan murid, yaitu saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, sebenarnya mereka memiliki suara murid (voice), pilihan murid (choice), dan kepemilikan murid (ownership) dalam proses pembelajaran mereka, termasuk program yang dibuat oleh sekolah, yang memiliki dampak pada murid, baik pembelajaran intrakurikuler, atau kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
Minggu, 27 Maret 2022
Jurnal Refleksi Mingguan
NAMA CGP : AHMAD JIADI, S.Pd.I
UNIT KERJA : SMPN SATU ATAP 1 KARAU KUALA
KECAMATAN : KARAU KUALA
KABUPATEN : BARITO SELATAN
PROVINSI : KALIMANTAN TENGAH
Modul 3.3 tentang Pengelolaan Program Berdampak pada Murid ini merupakan pembelajaran yang sangat bermanfaat sekali bagi saya, begitu banyak hal yang saya dapat dari pembelajaran modul ini, apalagi setelah melakukan kerja kelompok membuat perencanaan sebuah program yang berdampak pada murid di ruang kolaborasi yang dibimbing oleh fasilitatorIbu Any Suhaeny, kelompok kami beranggotakan 1) Tri Ari Mistha dari SMAN 1 Gunung Timang daerah Barito Utara, 2) Mohd. Noorsalim dari SMAN 3 Buntok daerah Barito Selatan, 3) Yunita Pebrianti dari SMAN 2 Gunung Bintang Awai daerah Barito Selatan, 4) Saya sendiri yaitu Ahmad Jiadi dari SMPN Satu Atap 1 Karau Kuala daerah Barito Selatan.
Banyak hal yang saya dapat dari hasil kerja kelompok tersebut, materi yang semula saya kurang paham menjadi lebih paham setelah berkolaborasi dengan teman satu kelompok tersebut, apalagi setelah presentasi, banyak masukan dan saran dari teman-teman kelompok lain guna perbaikan dalam pembuatan sebuah program positif yang akan berdampak terhadap murid. Adapun rencana program hasil kerja kelompok yang kami buat dan kami presentasikan kemarin dapat di lihat pada bagian di bawah ini.
Jumat, 25 Maret 2022
Sabtu, 19 Maret 2022
Jurnal Refleksi Mingguan
Modul 3.3 Pengelolaan Program Berdampak pada Murid
Begitu banyak hal-hal menarik pada pembelajaran modul 3.3 ini
yang berjudul Pengelolaan Program Berdampak pada Murid, pada modul-modul
sebelumnya di LMS, kami CGP diberikan gambaran-gambaran dan pengetahuan tentang
visi guru penggerak, bagaimana filosofi pendidikan menurut KHD, apa saja nilai
dan peran guru penggerak, pemahaman tentang budaya positif, pembelajaran
berdiferensiasi, pembelajaran social dan emosional, bagaimana praktik coaching,
pengambilan keputusan yang tepat, serta pengelolaan sumber daya, yang
kesemuanya agar membawa perubahan dengan merujuk kepada kreatifitas dan inovasi
sebagai pemimpin pembelajaran, pada modul ini kami CGP sudah di arahkan agar
mampu mengidentifikasi aset-aset yang telah dimiliki oleh sekolah untuk
dimaksimalkan sebagai pendukung program yang dibuat. Program yang dimaksud
adalah sebuah program yang berdampak pada murid, salah satunya adalah program
yang mampu memaksimalkan murid sebagai aset manusia yang utama dalam dunia
pendidikan, yang mampu memberikan perubahan secara signifikan kepada
murid, tidak hanya dirasakan oleh pemangku kebijakan dan guru saja.
Pembelajaran pada modul ini menitik beratkan agar memberikan
kesempatan pada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola
pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang
dengan baik, guru hanya sebagai fasilitator dan motifator saja dengan
memperhatikan suara murid, pilihan murid, dan kepemilikan murid.
Suara Murid (Voice)
mempertimbangkan
suara murid adalah tentang bagaimana kita memberdayakan murid kita agar
memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan. Suara murid yang otentik
memberikan kesempatan bagi murid untuk berkolaborasi dan membuat keputusan
dengan orang dewasa seputar apa dan bagaimana mereka belajar dan bagaimana pembelajaran
mereka dinilai. Mempromosikan suara murid dalam proses pembelajaran dapat
dilakukan dalam banyak cara. Suara murid dapat ditumbuhkan melalui
diskusi, membuka ruang ekspresi kreatif, memberi pendapat, merelevansikan
pembelajaran secara pribadi, dan sebagainya.
Pilihan
Murid (Choice)
Penelitian
yang dilakukan oleh Aiken, Heinze, Meuter, & Chapman, (2016) dan
Thibodeaux et al. (2017) menyimpulkan bahwa jika kita menginginkan murid-murid
kita mengambil peran tanggung jawab untuk pembelajaran mereka, maka kita harus
memberikan murid kesempatan untuk memilih apa dan bagaimana mereka akan
belajar. Memberikan pilihan pada murid dapat memberdayakan murid,
mendorong keterlibatan dalam pembelajaran, dan mengenalkan pada minat pribadi
dalam pengalaman belajar (Aiken et al, 2016). Selain itu,
memberikan murid pilihan juga meningkatkan motivasi dan otonomi murid, yang
dapat memberikan dampak positif pada efikasi diri dan motivasi murid (Bandura,
1997)
Kepemilikan
Murid (Ownership)
Voltz DL,
Damiano-Lantz M. dalam artikel penelitiannya yang berjudul Developing
Ownership in Learning. Teaching Exceptional Children (1993;25(4):18-22)
menjelaskan bahwa kepemilikan dalam belajar (ownership in learning)
sebenarnya mengacu pada rasa keterhubungan, keterlibatan aktif, dan minat
pribadi seseorang dalam proses belajar. Jadi dengan kata lain, saat murid
terhubung (baik secara fisik, kognitif, sosial emosional) dengan apa yang
sedang dipelajari, terlibat aktif dan menunjukkan minat dalam proses
belajarnya, maka kita dapat mengatakan bahwa tingkat rasa kepemilikan mereka
terhadap proses belajar tinggi.
Pada tanggal 18 Maret 2022 kami berjumpa dalam ruang kolaborasi sinkronus melalui link Google Meet yang telah tersemat di LMS
Kemudian kami akan mempresentasikannya hasil kerja kelompok pada
tanggal 21 Maret 2022.
Demikian kegiatan singkat minggu ini, salam bahagia…































